Perkebunanindonesia.com – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo melalui entitasnya PTPN IV Regional III kembali melanjutkan proyek pembangunan pembangkit tenaga biogas (PTBg).
Pengolahan limbah cair sawit atau palm oil mill effluent (POME) yang beroperasi di Bumi Lancang Kuning, Provinsi Riau, ini bekerjasama dengan perusahaan teknologi asal Jepang, Aiken Kakoki.
Region Head PTPN IV Regional III Ahmad Gusmar Harahap mengatakan, pembangunan pembangkit tenaga biogas (PTBg) co-firing yang sejalan dengan komitmen penguatan program pemanfaatan energi baru terbarukan tersebut berlangsung di kawasan pabrik kelapa sawit (PKS) Sei Garo, Kabupaten Kampar, Riau.
“Insya Allah, PTBg Cofiring hasil kolaboirasi PTPN IV dengan Aiken Jepang ini ditargetkan dapat melakukan commisioning atau performance test pada akhir tahun ini,” ungkap Gusmar seperti dikutip Selasa (8/7/2025).
Untuk diketahui, PTPN IV PalmCo bersama dengan Aiken yang merupakan perusahaan teknologi asal Jepang tersebut memulai kerjasama sejak akhir 2023 lalu.
Kerjasama itu diimplementasikan melalui beragam tahapan mulai dari detail perencanaan, bidding atau penawaran, procurement dan manufacturing, inspeksi, dan pembersihan. Saat ini proses terus berlanjut memasuki tahapan enviromental permission serta construction permission.
“Setelah izin lingkungan dan pembangunan dilewati, yang insya Allah kita targetkan Oktober mendatang, maka dapat kita lanjutkan ke tahapan-tahapan selanjutnya, baik konstruksi, instalasi peralatan, dan input benih granular sludge,” jelas Gusnar.
Pembangunan PTBg co-firing diketahui menggunakan teknologi Expanded Granular Sludge Beg (EGSB). Teknologi mutkahir ini diklaim lebih efektif dan efisien untuk menghasilkan gas metana sebagai sumberenergi baru terbarukan (EBT).
Pembangunan PTBg bersumber dari pendanaan Badan Kerja Sama Internasional Jepang atau JICA (Japan International Cooperation Agency).
Diproyeksikan proyek ini memiliki kapasitas minimum pengolahan POME sebesar 150 meter kubik perhari. Menurut rencana, kerjasama itu bersamaan dengan aktivitas riset AIKEN selama dua tahun.
“Ini adalah kesempatan emas bagi kami untuk terlibat aktif dalam pengembangan EBT menggunakan teknologi Expanded Granular Sludgebeg (EGSB) ini. Kami mendapat informasi bahwa penerapan teknologi ini merupakan yang pertama di dunia,” ujar Gusnar.
EGSB sendiri adalah teknologi pengolahan POME yang memanfaatkan bakteri anaerob granular dan merupakan teknologi yang digunakan untuk reaktor EGS.
Dalam teknologi tersebut, selain memanfaatkan gas metana yang dilepaskan limbah sebagai sumber energi, juga menghasilkan dehydrated sludge berupa produk sampingan yang dihasilkanmelalui pengolahan POME.
“Produk sampingan itu diklaim memiliki nilai kalori hingga 5.110 kalori. Nilai itu bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan batu-bara yang rata-rata berkisar 3.600 sampai 4.200 kalori,” tambah Head of PMO PTPN IV Regional III Masrukin.
Masrukin berharap kerjasama dua negara ini dapat berjalan dengan baik sehingga semangat pemanfaatan energi baru terbarukan di Holding Perkebunan Nusantara dapat kian dimaksimalkan di masa mendatang.
PTPN IV Regional III merupakan salah satu entitas yang memanfaatkan EBT melalui pengolahan POME dengan PTBg. Baru-baru ini, salah satu instalasi PTBg co-firing di Lubuk Dalam Kabupaten Siak berhasil meraih Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK). (fad)




