PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing industri kakao nasional.
Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui Program Cocoa Doctor yang bertujuan mencetak sumber daya manusia (SDM) kompeten sebagai agen perubahan dalam pengembangan ekosistem kakao Indonesia, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
“Penguatan industri kakao tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji dalam keterangannya di Jakarta dikutip Selasa (20/10/2026).
Menperin menegaskan bahwa penguatan industri kakao nasional membutuhkan sinergi berbagai pihak untuk menjawab tantangan yang dihadapi sektor tersebut, khususnya terkait produktivitas, kualitas bahan baku, dan keberlanjutan pasokan bagi industri pengolahan.
“Mulai dari peningkatan produktivitas dan kualitas bahan baku, penguatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan prinsip keberlanjutan, hingga peningkatan daya saing industri pengolahan dan produk kakao nasional,” ujar Menperin
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro, Kemenperin, Putu Juli Ardika mengatakan, penguatan kompetensi SDM merupakan fondasi penting untuk membangun industri kakao yang tangguh dan berdaya saing.
“Kementerian Perindustrian memandang pengembangan SDM sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun industri kakao yang berdaya saing,” ujar Putu.
Putu mengatakan, SDM memiliki kompetensi di bidang budidaya, pascapanen, fermentasi, pengolahan, maupun aspek keberlanjutan akan memperkuat keterhubungan antara kebutuhan industri dengan kondisi di tingkat hulu.
Menurut Putu, para lulusan Cocoa Doctor diharapkan mampu menerapkan sekaligus menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh kepada petani dan pelaku usaha di daerah masing-masing.
Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh peserta pelatihan, tetapi juga dapat memberikan dampak lebih luas terhadap peningkatan kualitas dan produktivitas kakao nasional.
Program Cocoa Doctor merupakan hasil kolaborasi Kemenperin dengan FAST Project dari United Nations Development Programme (UNDP), yang mendapat dukungan dari United Kingdom Foreign, Commonwealth & Development Office (UK FCDO), serta Cocoa Academy PT Mars Symbioscience Indonesia.
Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas SDM sekaligus membangun rantai nilai kakao nasional yang lebih produktif, berkelanjutan, dan kompetitif.
Menperin berharap sinergi yang terbangun dapat menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat ekosistem industri kakao nasional.
“Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program dan aksi bersama yang memberikan dampak nyata bagi petani, pelaku usaha, dan industri kakao nasional,” kata Sarmuji.
Sebanyak 20 peserta Program Cocoa Doctor mengikuti prosesi kelulusan setelah menjalani pelatihan peningkatan kompetensi. Para peserta berasal dari sejumlah wilayah sentra kakao, yakni Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Barat, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Jawa Barat.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 peserta atau 75 persen merupakan perempuan, sedangkan lima peserta atau 25 persen merupakan laki-laki. Komposisi ini sekaligus menunjukkan besarnya peran perempuan dalam penguatan kapasitas SDM dan pengembangan rantai nilai kakao nasional.
Sepanjang tahun 2026, Program Cocoa Doctor menargetkan pelatihan bagi 100 peserta. Hingga awal Oktober 2026, sebanyak 70 peserta telah mengikuti pelatihan, sementara 30 peserta lainnya dijadwalkan menjalani pelatihan pada 20 Oktober hingga 11 November 2026.
Program yang dimulai sejak Juli 2026 tersebut dilaksanakan secara bertahap di fasilitas Mars Cocoa Academy Tarengge. Melalui pelatihan ini, peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, serta penerapan praktik keberlanjutan dalam pengelolaan kakao. (fad)




