a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

16 Oktober 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – Teh Java Preanger membuka peluang memperluas pasar internasional, khusus ke benua Amerika.

Permintaan teh tersebut menjadi langkah pengembangan komersialisasi produk indikasi geografis Indonesia di pasar global..

Direktur Merek dan Indikasi Geografis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Fajar Sulaeman Taman mengatakan, keanekaragaman hayati Indonesia merupakan potensi besar untuk menghasilkan produk indikasi geografis yang memiliki identitas khas dan nilai ekonomi.

Menurut Fajar, pelindungan indikasi geografis berperan menjaga keterkaitan produk dengan daerah asalnya, termasuk karakteristik dan reputasi yang menjadi pembeda di pasar.

“Kami berharap upaya ini membuka lebih banyak peluang kerja sama bagi produk-produk unggulan Indonesia,” ujar Fajar, Kamis (15/10/2026).

Lebih lanjut Fajar mengatakan, peran DJKI adalah memperkenalkan produk indikasi geografis Indonesia kepada para atase perdagangan di luar negeri supaya produk tersebut dapat dipromosikan dan dikenal oleh calon pembeli internasional.

Menurut Fajar, pengembangan produk indikasi geografis juga dilakukan melalui berbagai upaya promosi dan penguatan kapasitas pelaku usaha, antara lain melalui program GI Smart yang mendukung pemasaran digital dan pendampingan kemasan, serta GI Tourism yang menghubungkan produk indikasi geografis dengan potensi pariwisata daerah.

Upaya tersebut diharapkan membantu produk indikasi geografis semakin dikenal sekaligus memiliki kesiapan untuk bersaing di pasar yang lebih luas.

Ketua MPIG Teh Java Preanger, Nugroho B. Koesnohadi, mengungkapkan, komunikasi awal dengan pihak pembeli terjalin melalui Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Sebelum MoU ditandatangani, kata Nugroho, pihak Sinensis berkunjung langsung ke kebun teh untuk melihat produk dan proses produksinya.

Dalam rangkaian penjajakan tersebut, pembeli telah membeli 20 kilogram teh dan menyampaikan pesanan tambahan sebanyak 100 kilogram.

Namun, tambah Nugroho, pesanan tambahan tersebut belum dapat dipenuhi segera karena musim kemarau yang berkepanjangan memengaruhi ketersediaan produk.

MPIG memperkirakan pemenuhan pesanan dapat dilakukan sekitar tiga bulan mendatang, ketika hujan mulai turun dan pasokan kembali tersedia.

“Kerja sama ini membuka peluang bagi Teh Java Preanger untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk melalui jaringan Sinensis di Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat,” jelas Nugroho.

Menurut Nugroho, perluasan pasar perlu diimbangi dengan konsistensi mutu serta pemeliharaan reputasi dan karakteristik teh agar kepercayaan pembeli dapat terus terjaga.

Salvador Sosa dari Sinensis menilai Teh Java Preanger memiliki kualitas yang menarik. Ketertarikannya muncul setelah mencoba sejumlah sampel teh Indonesia, termasuk jenis *silver needle*.

“Saya mencoba beberapa sampel silver needle dari Indonesia dan menemukan bahwa salah satunya merupakan teh terbaik yang pernah saya coba,” kata Salvador.

Salvador juga menilai indikasi geografis penting dalam perdagangan karena memberikan kepastian mengenai asal suatu produk.

Menurut Salvador, informasi asal yang jelas membantu pembeli memastikan bahwa produk yang dipasarkan benar-benar berasal dari daerah yang disebutkan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar, menekankan bahwa pelindungan kekayaan intelektual (KI) perlu diikuti dengan pemanfaatan yang mampu menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Dengan demikian, KI tidak hanya berkaitan dengan pengakuan dan pelindungan hak, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha dan memperluas pasar produk unggulan Indonesia.

“Kekayaan intelektual tidak boleh berhenti pada pelindungan semata. KI perlu dimanfaatkan untuk menghasilkan nilai ekonomi, membuka peluang usaha, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Hermansyah.

Karena itu, kata Hermansyah, pelindungan perlu diikuti dengan upaya komersialisasi agar produk unggulan Indonesia memiliki daya saing dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

DJKI mengajak para pelaku usaha dan masyarakat untuk mengenali serta memanfaatkan pelindungan kekayaan intelektual, termasuk indikasi geografis, sebagai bagian dari pengembangan produk unggulan daerah.

Dengan menjaga kualitas dan identitas asal, produk indikasi geografis Indonesia diharapkan memiliki daya saing lebih kuat serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat penghasilnya.

Permintaan teh Java Preanger dikukuhkan melaui penandatanganan nota kesepahaman Memorandum of Understanding (MoU) antara Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Teh Java Preanger dan Sinensis, perusahaan teh asal Meksiko.di Banten, Kamis (15/10/2026).

Tags: Indikasi GeografisTeh

Related Posts

Pengembangan Perkebunan di Lahan Suboptimal Jadi Peluang Strategis

Kemenperin Perkuat Industri Kakao Siapkan 100 Cocoa Doctor

20 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing...

Pemerintah Dukung Pengembangan Kopi di Tana Toraja

Pemerintah Dukung Pengembangan Kopi di Tana Toraja

13 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Pemerintah siap mendukung pengembangan kopi, jambu mete, kelapa, kakao, hingga lada agar potensi pertanian setempat,...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

BRIN, UGM dan Industri Kembangkan Nyamplung untuk Biodiesel dan SAF

BRIN, UGM dan Industri Kembangkan Nyamplung untuk Biodiesel dan SAF

6 September 2026
Kementan Perkuat Hilirisasi Kakao Guna Tingkatkan Daya Saing

Kementan Perkuat Hilirisasi Kakao Guna Tingkatkan Daya Saing

24 Juni 2026
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.