PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus perkuat hilirisasi kakao guna meningkatkan daya saing dan memperbesar kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional.
“Kami terus mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas kakao melalui penggunaan benih unggul, peremajaan tanaman, penerapan Good Agricultural Practices (GAP), serta penguatan industri pengolahan,” ungkap Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Kementan, Ali Jamil, dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Dengan langkah tersebut, kata Ali Jamil, produk kakao Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan industri domestik, tetapi juga semakin kompetitif di pasar global.
Menurut Ali Jamil, Australia merupakan pasar potensial bagi produk kakao olahan Indonesia karena memiliki standar mutu tinggi serta kebutuhan industri yang terus berkembang.
Lebih lanjut Ali Jamil mengatakan, peluang ekspor cocoa butter Indonesia akan semakin besar apabila pelaku usaha mampu memenuhi seluruh persyaratan teknis yang ditetapkan negara tujuan.
“Cocoa butter Indonesia memiliki prospek yang sangat baik di pasar Australia. Namun keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pasokan, melainkan juga kemampuan memenuhi standar keamanan pangan, sistem ketertelusuran produk, dan persyaratan biosekuriti yang berlaku,” ujar Ali Jamil.
Ali Jamil menilai keberadaan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) merupakan momentum yang harus dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha nasional untuk memperluas pasar ekspor produk kakao olahan.
Menurut Ali Jamil, sinergi antara pemerintah, petani, industri pengolahan, dan eksportir menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing kakao Indonesia.
“Kami optimistis ekspor produk hilir kakao seperti cocoa butter akan terus meningkat dan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional serta kesejahteraan pekebun,” ujar Ali Jamil.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa hilirisasi merupakan strategi utama dalam meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
“Hilirisasi adalah kunci untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas perkebunan sekaligus memperbesar manfaat yang diterima petani.
“Kakao Indonesia tidak boleh diekspor hanya sebagai bahan baku, tetapi harus diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing dan menembus pasar premium dunia, termasuk Australia,” ujar Mentan Amran.
Menurut Amran, Indonesia memiliki potensi besar sebagai salah satu produsen kakao dunia. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas, kualitas, dan kapasitas industri pengolahan harus terus diperkuat secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Kita harus membangun ekosistem kakao yang berkelanjutan. Pekebun memperoleh harga yang lebih baik, industri mendapatkan bahan baku berkualitas, dan ekspor terus tumbuh. Dengan demikian, nilai tambah dapat dinikmati di dalam negeri dan kesejahteraan pekebun semakin meningkat,” tambahnya.
Sebagai informasi, peluang ekspor produk kakao olahan Indonesia, khususnya cocoa butter, ke Australia semakin menjanjikan seiring meningkatnya permintaan industri pangan dan cokelat di negara tersebut.
Dukungan kerja sama ekonomi melalui IA-CEPA turut membuka akses pasar yang lebih luas dan kompetitif bagi produk perkebunan Indonesia yang memiliki nilai tambah tinggi.
Australia merupakan salah satu mitra dagang strategis Indonesia dengan daya beli masyarakat yang tinggi serta industri makanan dan minuman yang terus berkembang.
Melalui IA-CEPA, berbagai produk Indonesia memperoleh kemudahan akses pasar, termasuk fasilitas tarif preferensial yang semakin meningkatkan daya saing produk ekspor nasional.
Meski peluang pasar terbuka lebar, produk kakao olahan Indonesia tetap harus memenuhi berbagai persyaratan ketat yang ditetapkan pemerintah Australia, terutama terkait keamanan pangan, mutu produk, biosecurity, dan ketertelusuran (treacibility). (gar)




