a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Kementan Kembangkan Kawasan Tebu Seluas 97.970 Hektare

Kementan Perkuat Langkah Lindungi Produktivitas Perkebunan

17 Oktober 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Pertanian (Kementan) sigap menyiapkan mitigasi dampak cuaca terhadap komoditas perkebunan mengantisipasi potensi penurunan produktivitas akibat kondisi curah hujan yang bervariasi di sejumlah wilayah Indonesia.

“Kami mendorong petani dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan, melakukan pemantauan rutin, serta menerapkan langkah adaptasi agar produktivitas perkebunan tetap terjaga,” ujar Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan, Kementan, Heru Tri Widarto,  dikutip Jumat (16/10/2026).

Menurut Heru, kesiapsiagaan dan penanganan sesuai kondisi lapangan menjadi kunci untuk mengurangi risiko dampak cuaca terhadap sektor perkebunan.

“Mitigasi perlu dilakukan sejak dini dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah serta kebutuhan komoditas,” kata Heru.

Direktorat Jenderal Perkebunan mempertimbangkan prakiraan curah hujan, karakteristik komoditas, serta kondisi dan fase pertumbuhan tanaman.

Pada wilayah dengan curah hujan rendah, perhatian diarahkan pada upaya menjaga ketersediaan air dan kelembapan tanah.

Sementara itu, wilayah dengan curah hujan tinggi perlu mengantisipasi genangan, gangguan akses panen, erosi, serta peningkatan risiko organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Pada wilayah dengan curah hujan rendah, mitigasi dilakukan melalui penggunaan mulsa dan bahan organik, pemeliharaan penutup tanah, konservasi tanah dan air, serta pemanfaatan rorak atau sarana penampungan air.

Penyediaan air perlu diprioritaskan bagi tanaman muda yang rentan mengalami cekaman kekeringan. Langkah ini relevan bagi komoditas seperti kelapa sawit, karet, kopi, kakao, kelapa, dan lada.

Khusus pada tanaman tebu, pengelolaan air perlu disesuaikan dengan fase pertumbuhan. Tanaman yang masih aktif tumbuh dapat memperoleh pengairan tambahan secara efisien apabila tersedia, sedangkan pada fase pemasakan, pemberian air berlebih perlu dihindari dan jadwal tebang disesuaikan dengan kondisi tanaman.

Sementara itu, di wilayah dengan curah hujan tinggi, upaya mitigasi mencakup perbaikan dan pemeliharaan drainase, pencegahan genangan, pemangkasan tajuk untuk menjaga sirkulasi udara, serta sanitasi kebun dan pemantauan penyakit tanaman.

Pada komoditas karet, kegiatan penyadapan perlu disesuaikan dengan kondisi hujan, sedangkan pada kopi dan kakao, penanganan diarahkan untuk menekan risiko penyakit daun dan buah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dalam kesempatan berbeda, menegaskan pentingnya langkah antisipatif untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian, termasuk subsektor perkebunan.

“Pemerintah terus mendorong upaya antisipasi terhadap berbagai risiko yang dapat mengganggu produksi. Pendampingan kepada petani, penguatan koordinasi, dan penerapan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan harus terus dilakukan agar produktivitas tetap terjaga dan kesejahteraan petani semakin meningkat,” ujar Amran. (har)

Tags: Kementan

Related Posts

BRIN Dorong Hilirisasi Nilam dan Cengkeh untuk Tingkatkan Daya Saing Global

BRIN Dorong Hilirisasi Nilam dan Cengkeh untuk Tingkatkan Daya Saing Global

15 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan hilirisasi minyak atsiri nilam dan cengkeh untuk...

Penanganan Karhutla Dinilai Belum Selesaikan Akar Masalah

Penanganan Karhutla Dinilai Belum Selesaikan Akar Masalah

2 Oktober 2026

  PERKEBUNAN INDONESIA — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dinilai masih mengutamakan pendekatan represif dan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Harga TBS Petani Mitra Swadaya Riau Terus Anjlok

Harga Sawit Swadaya Pekan Ini Melorot

17 September 2025
Harga TBS Kalteng Periode II Juli 2025 Kembali Naik

Harga TBS Kalteng Periode II Juli 2025 Kembali Naik

9 Agustus 2025
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.