PERKEBUNAN INDONESIA – Produk rempah Indonesia jadi primadona pada Africa Food Show (AFS) di Cape Town, Afrika Selatan 2026. Sejak pameran pada 10—12 Juni 2026, Paviliun Indonesia berhasil mencatatkan total potensi transaksi sebesar USD 1,65 juta.
Selain itu, Paviliun Indonesia juga pamerkan produk sanitasi, kopi instan, kakao, dan kacang mede. Paviliun Indonesia mendapat banyak atensi dari para pengunjung yang berasal dari Afrika Selatan, Tanzania, Zimbabwe, Zambia, Pakistan, dan Persatuan Emirat Arab.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus mendorong penetrasi produk lokal Indonesia di pasar Afrika, salah satunya melalui fasilitasi pelaku usaha pada Pameran. Tahun ini merupakan kedua kalinya Pameran AFS terlaksana setelah mengalami penjenamaan ulang (rebranding) dari Africa’s Big 7 yang telah eksis lebih dari dua dekade.
Konsul Jenderal RI Cape Town, Tudiono mengatakan, keikutsertaan Indonesia di pameran ini menjadi upaya efektif untuk memperbesar peluang masuknya lebih banyak produk makanan dan minuman (mamin) Indonesia di Afrika Selatan.
“Afrika Selatan merupakan negara yang memiliki infrastruktur terbaik di Afrika dan bisa menjadi pintu masuk ke negara-negara Afrika bagian selatan lainnya. Meskipun masih terdapat berbagai tantangan, kita harus tetap menggarap setiap peluang yang ada dengan penuh optimisme,” ujar Tudiono dikutip Selasa (16/7/2026).
Lebih lanjut, Tudiono menambahkan bahwa tingginya jumlah keturunan Indonesia di Cape Town berperan besar dan perlu dioptimalkan untuk membantu memopulerkan dan memasarkan produk Indonesia di Afrika Selatan dan di negara sekitar.
Hal tersebut kemudian mendasari terjalinnya sinergi antara Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) dengan Indonesia Business Community (INDBIZCO) dalam keikutsertaan Indonesia pada Pameran AFS 2026 ini.
Kepala ITPC Johannesburg, Efri Yenni menjelaskan bahwa Afrika Selatan merupakan pasar strategis yang mulai banyak diincar oleh para pelaku usaha Indonesia sejak tahun lalu.
“Pihak ITPC dan INDBIZCO bersinergi untuk dapat mendukung lebih banyak eksportir mamin Indonesia dalam memperluas promosi produknya kepada konsumen dan pelaku bisnis di Afrika Selatan,” jelas Yenni.
Paviliun Indonesia menampilkan 12 pelaku usaha kategori mamin yang terdiri atas BC President, Alco Langit Semesta, Cahaya Sinar Terang, Daesang MAMASUKA, iClean, Kapal Api Group, Khong Guan, Kobumi, Konimex, Manohara Asri, PT Persatuone Komoditas Indonesia, serta T3 Premium Tea.
Yenni menuturkan bahwa komposisi peserta Paviliun Indonesia bukan hanya didominasi perusahaan skala besar, tetapi juga melibatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Hal ini membuktikan bahwa produk UKM Indonesia memiliki standar kualitas yang mumpuni dan mampu bersaing di pasar Afrika, khususnya Afrika Selatan.
Langkah ini juga sejalan dengan target strategis Kemendag dalam meningkatkan capaian ekspor nasional sekaligus mendorong lebih banyak UMKM agar sukses menembus pasar global.
“Kami akan menindaklanjuti semua kontak yang kami peroleh selama pameran dengan harapan produk rempah dari timur Indonesia ini segera dapat masuk ke pasar Afrika Selatan,” pungkas Etik Mei Wati, Presiden Direktur Kobumi.
Kemendag mencatat, kinerja ekspor Indonesia dengan Afrika Selatan pada periode Januari-April 2026 mengalami peningkatan 23,17 persen dibanding periode yang sama tahun 2025, yaitu mencapai USD 348,3 juta.
Ekspor produk makanan olahan Indonesia ke Afrika Selatan pada 2025 tercatat sebesar USD 30,7 juta dengan produk utama mi instan, bubuk cokelat, biskuit, dan kacang-kacangan. Nilai ekspor ini mengalami peningkatan 43,46 persen dari nilai ekspor tahun sebelumnya. (fad)




