PERKEBUNAN INDONESIA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia harus menjadi penentu harga kelapa sawit. Apalagi sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia.
“Dan kita merasa aneh, kita produsen kelapa sawit terbesar di dunia, tapi harga kelapa sawit ditentukan di negara lain,” ujar Presiden dalam pidato penyampaian Rancangan APBN 2027 di DPR RI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Presiden pun sudah mengatakan kepada menteri-materi bahwa harga kelapa sawit tidak boleh ditentukan negara luar.
“Saya mengatakan kepada menteri-menteri saya; ini tidak boleh terjadi. Saya tidak mau kelapa sawit kita harganya ditentukan oleh bangsa lain. Kita tentukan harga kita!.” Tegas Presiden Prabowo.
Prabowo juga menegaskan, jika pembeli dari negara luar tidak mau membeli dengan harga yang ditentukan lebih baik keapa sawit tidak usah dijual.
“Kalau mereka enggak mau beli pakai harga kita, ya enggak usah beli, kita pakai kelapa sawit kita sendiri,” tukas Presiden.
Presiden mengatakan, Indonesia adalah pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Devisa ekspor minyak kelapa sawit mencapai USD23 miliar, setara dengan Rp391 triliun pada tahun 2025.
“Kita punya komoditas komoditas yang sangat berharga. Batu bara kita, nikel kita, tembaga kita, minyak kelapa sawit kita, logam tanah jarang, kekayaan laut yang melimpah,” ungkap Prabowo.
Indonesia juga adalah pengekspor batu bara terbesar di dunia. Devisa ekspor batu bara mencapai US$30 miliar, setara Rp510 triliun pada tahun 2025.
“Tiga komoditas strategis ini menghasilkan devisa lebih dari US$65 miliar dolar Amerika, setara dengan Rp1.100 triliun per tahun,” sebut Kepala Negara.
Meski begitu, kata Prabowo, semestinya Indonesia juga tidak pernah akan mengalami krisis ekonomi. Karena ekspor selalu lebih dari impor.
“Negara kita tidak pernah rugi, satu tahun pun kita tidak pernah rugi. Ekspor kita selalu lebih daripada impor kita. Kalau ilmu dagang berarti yang kita jual adalah lebih banyak dari yang kita beli. Harusnya negara ini tidak pernah akan mengalami krisis ekonomi,” terang Presiden.
Namun, lanjut Prabowo, justru yang terjadi keuntungan ekspor sumber daya alam malah sebaliknya. Keuntungan ekspor selama 22 tahun laporannya tidak sesuai kenyataan.
“Keuntungan ekspor kita yang selama 22 tahun adalah US$436 miliar, yang keluar adalah US$343 miliar. Ini angka-angka dari PBB. Berarti selama 22 tahun kekayaan kita yang tinggal di Indonesia adalah US$436 miliar dikurangi US$343 miliar,” jelas Prabowo.
Selama 34 tahun yang terjadi adalah apa yang disebut under-invoicing atau penipuan. “Yang dijual oleh pengusaha pengusaha tidak dilaporkan yang sebenarnya,” tandas Prabowo.
Menurut Presiden, banyak di antara pengusaha membuat perusahaan di luar negeri yang selanjutnya dijual dari perusahaan di dalam negeri ke perusahaannya di luar negeri yang harganya jauh di bawah harga yang sebenarnya.
“Kita bisa bohong di negara kita, kita kirim 10.000 ton batu bara kita hanya laporkan 5.000 ton. Bisa di Indonesia. Di sana tidak bisa, di sana dicatat. Itu terjadi pada kelapa sawit, itu terjadi hampir semua komoditas. Itu adalah penipuan di atas kertas. Ada lagi penyelundupan. Ada lagi penyelundupan melalui pelabuhan,” beber Presiden. (yer)




