Perkebunanindonesia.com – Delegasi Ministry of Health, Labour and Welfare (MHLW) Jepang meninjau langsung pasca panen komoditas kopi dan pala terkait cemaran residu dan aflatoksin di Indonesia.
Hal ini sebagai upaya sistem pengawasan keamanan pangan di Indonesia terhadap pangan segar yang diekspor ke Jepang.
“Fokus utamanya adalah penanganan residu pestisida pada kopi serta pencegahan cemaran aflatoksin pada pala, yang sebelumnya menjadi penyebab notifikasi dari otoritas Jepang.” jelas Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan, Hermawan, di Jakarta, dikutip Senin (8/9/2025).
Hermawan berharap, hasil survei di Lampung serta Sulawesi Utara ini dapat memperkuat upaya bersama dalam menjamin keamanan pangan ekspor Indonesia.
Hal ini, tambah Hermawan, sekaligus menunjukkan bahwa para petani dan pelaku usaha di Indonesia serius dalam menjaga kualitas produknya, sehingga daya saing kopi dan pala di pasar internasional semakin meningkat.
Adapun di Lampung, tim MHLW meninjau kebun kopi milik KUB Mawar Kabupaten Tanggamus serta perusahaan kopi PT LDC.
Dalam kunjungan sejak 1-4 September 2025 tersebut, ditunjukkan penerapan sistem ketelusuran terpadu, sertifikasi ISO 22000, serta pengujian residu pestisida di laboratorium sebelum ekspor.
Diketahui perusahaan kopi di Lampung juga menjalin kemitraan dan pembinaan dengan petani kopi untuk penerapan praktik budi daya yang baik.
Sementara di Sulawesi Utara, tim MHLW mengunjungi kebun pala dari Poktan Mitra Kreatif serta perusahaan pala milik CV. Indoprima yang menerapkan pemeriksaan mutu, pengeringan, sortasi, pengemasan, dan fumigasi sebelum pengiriman.
Petani pala setempat pun telah menggunakan pestisida nabati, melakukan pemanenan manual, serta pemisahan buah untuk menjaga mutu.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, ekspor kopi Indonesia sejak lebih10 tahun terakhir terus merosot. Pada 2000 ekspor kopi ke negara Sakura mencapai 65.327,4 ton, sedangkan pada 2024 sebesar 15.258,6 ton.
Sedangkan data Direktorat Jendral Perkebunan, Kementerian Pertanian, produksi pala Indonesia pada tahun 2018 sebesar 36.242 ton dengan luas area tanam 202.325 hektare (ha).
Provinsi Maluku Utara menjadi sentra pala terbesar, disusul Provinsi Aceh, Maluku, Papua Barat dan Sulawesi Utara.
Sekitar 99 persen pala Indonesia dihasilkan oleh perkebunan rakyat yang masih menggunakan cara penanganan pascapanen tradisional dengan peralatan seadanya.
Hal ini menyebabkan rendahnya mutu pala Indonesia yang kemudian berpengaruh terhadap rendahnya harga pala.
Disamping itu rendahnya mutu pala Indonesia disebabkan beragamnya jenis pala, waktu panen yang kurang tepat, penyimpanan dan pengemasan yang kurang baik serta tercampurnya dengan pala hutan. (sat)




