JAKARTA, perkebunanindonesia.com – Pasokan kelapa dari petani di pasaran anjlok 60 persen akibat tingginya ekspor. Kondisi ini diprediksi bakal terus berlangsung lama karena produksi juga tidak meningkat.
“Pasokan turun 60 persen sejak kelapa banyak diekspor ditambah juga produksinya menurun,” ungkap Ketua Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (Perpekindo) Muhaemin Tallo kepada perkebunanindonesia.com, Rabu (30/4/2025).
Muhaemin mengakui, tingginya ekspor buah kelapa berdampak pada naiknya kelapa saat ini. Sehingga petani pun merasakan dampak lonjakan harga kelapa.
Padahal, kata Muhaemin, sudah sejak puluhan tahun harga kelapa seperti tidak ada harganya karena murah. Kini harga kelapa naik pada kisaran Rp 6.400-Rp6.800/kilogram (kg)
“Petani kelapa tentu saja sangat senang adanya kenaikan harga kelapa sekarang ini. Karena pendapatan juga ikut naik,” ujar Muhaemin.
Sejak era 1990-an, kata Muhaemin, minyak kelapa mulai ditinggalkan konsumen yang beralih ke minyak kelapa sawit. Akibatnya, harga kelapa anjlok dan bertahan di Rp 1.000-Rp 1.500/kg selama lebih dari 10 tahun.
Menurut Muhaemin, kenaikan harga memicu perekonomian di tingkat petani. Semakin tinggi ekspor buah kelapa membuat petani bergairan untuk merawat tanaman kelapanya yang selama ini dibiarkan begitu saja.
Untuk itu, lanjut Muhaemin, petani kelapa meminta agar wacana moratorium (penghentian sementara) ekspor kelapa selama enam bulan, tidak dilakukan. Perpekindo menolak keras terhadap wacana tersebut.
Muhaemin tak menampik jika industri kekurangan bahan baku akibat naiknya ekspor kelapa. “Tapi ini jadi pelajaran buat mereka agar ikut membina petani kelapa dengan melakukan kemitraan,” tandasnya.
Perpekindo berharap pemerintah untuk memberikan perhatian kepada petani kelapa. Pemerintah juga tidak mengabulkan moratorium ekspor.
“Kami juga berharap pemerintah memperkuat industri hilir kelapa dalam negeri tanpa menekan harga di tingkat petani. Skema pendanaan peremajaan kelapa rakyat juga harus direalisasikan, sehingga meningkatkan produktivitas,” jelas Muhaemin.
Muhaemin menyebutkan, produksi kelapa saat ini menurun sebesar 60 persen akibat fenomena El Nino. Akibatnya semua kekurangan bahan baku, termasuk industri. “Peremajaan kelapa juga tidak ada,” tukasnya.
Data Kementerian Pertanian menyebutkan, sejak 30 tahun terakhir luas areal tanam kelapa turun dari 3,9 juta hektare (ha) menjadi 3,2 juta ha (2024).
Produksi kelapa juga anjlok sejak 10 tahun terakhir. Pada 2011 produksi kelapa tercatat 3.174.378 ton, sedangkan pada 2021 sebesar 2.777.530 ton. (yr)




