PERKEBUNAN INDONESIA – Naiknya harga teh di pasar global ternyata belum dirasakan petani teh Indonesia. Justru produksi teh tahun ini malah cenderung turun.
“Sejauh ini belum ada dampaknya (kenaikan harga-red) bagi petani teh di Indonesia,” ungkap Ketua Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo) Nugroho B. Koesnohadi kepada www.perkebunanindonesia.com.
Menurut Nugroho, selama ini jika ada kenaikan harga teh biasanya dampaknya pembayarannya menjadi bertambah lancar. Sekalipun ada kenaikan harga sedikit saja.
Malah, lanjut Nugroho, justru produksi teh petani tahun ini cenderung terus menurun. Karena para petani tidak bisa memupuk tanaman dengan baik “Karena harga pupuk semakin mahal,” tukasnya.
Sementara itu, Ferri, petani teh Desa simpang, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjut, Jawa Barat, mengaku harga pucuk teh saat ini masih tetap seperti biasa.
“Kalau di saya harga teh masih di bawah Rp 2.500 per kilogram. Harganya masih tetap dan belum berubah,” ujar Ferri kepada www.perkebunanindonesia.com.
Ferri mengatakan, untuk panen teh tahun cenderung turun karena hujan sepanjang tahun, sehingga merusak pucuk.
“Tapi kalau di Desa Pesawahan, tetangga saya, harga pucuk sudah naik rata-rata Rp 2.800 per kilogram,” kata Ferri.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyambut positif kenaikan harga teh dunia hingga 70 persen. Sehingga membawa angin segar bagi petani di Indonesia.
“Alhamdulillah, petani bahagia. Seperti kelapa juga harganya naik. Teh naik, insya Allah ekspor kita naik,” ujar Amran, Senin (3/11/2025).
Menurut Amran, Indonesia hampir pasti akan menikmati keuntungan dari kenaikan harga teh global tersebut.
Karena, kata Amran, selain sebagai salah satu produsen teh terkemuka dunia, Indonesia juga memiliki berbagai komoditas perkebunan unggulan lain yang tengah naik daun di pasar dunia.
Amran mengatakan pemerintah akan terus mendorong hilirisasi dan peningkatan produktivitas teh nasional agar Indonesia dapat memanfaatkan momentum kenaikan harga ini secara maksimal.
“Kita dorong nanti teh. Semua ini luar biasanya Indonesia. Banyak produk-produk kita yang sulit diproduksi negara lain,” kata Amran. (yer)




