PERKEBUNAN INDONESIA – Mitigas dan adaptasi perubahan iklim untuk menjaga produksi kopi nasional terus diperkuat Kementerian Pertanian (Kementan).
“Mitigasi terus diperkuat melalui penerapan budidaya adaptif, penggunaan benih unggul yang toleran terhadap kekeringan, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,” tegas Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.
Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia. Selain menjadi sumber penghidupan jutaan pekebun, kopi juga berkontribusi terhadap ekspor nasional dan menjadi salah satu komoditas yang semakin diminati pasar dunia.
Oleh karena itu, menjaga keberlanjutan produksi kopi menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan, ekonomi, dan daya saing perkebunan Indonesia.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Heru Tri Widarto mengatakan perubahan iklim harus direspons melalui peningkatan produktivitas yang disertai penerapan praktik budidaya berkelanjutan.
“Tantangan ke depan semakin kompleks, salah satunya akibat perubahan iklim,” ujar Heru dalam keterangannya pada Rabu (5/8/2026).
Karena itu, kata Heru, peningkatan produktivitas harus dibarengi dengan penerapan teknologi dan praktik budidaya yang berkelanjutan agar produksi kopi tetap terjaga
Menurut Heru, perubahan iklim berpotensi mengganggu fase pembungaan tanaman kopi, meningkatkan risiko kekeringan maupun curah hujan berlebih, serta memperbesar ancaman organisme pengganggu tanaman (OPT).
Peningkatan suhu dapat mempercepat siklus hidup hama utama kopi seperti enggerek buah kopi sekaligus memperluas wilayah penyebarannya hingga ke dataran yang sebelumnya relatif aman.
Di sisi lain, perubahan pola curah hujan dan meningkatnya kelembapan lingkungan juga menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi perkembangan penyakit penting pada tanaman kopi, antara lain karat daun kopi, bercak daun, antraknosa, serta busuk buah kopi.
Kondisi tersebut, menurut Heru, dapat meningkatkan frekuensi maupun intensitas serangan penyakit sehingga berdampak terhadap produktivitas dan mutu hasil kopi.
Oleh karena itu, kata Heru, pihaknya terus mendorong penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang adaptif terhadap perubahan iklim sebagai bagian dari sistem budidaya kopi berkelanjutan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketahanan sistem produksi kopi sekaligus menjaga produktivitas dan kualitas hasil.
Selain itu, berbagai langkah mitigasi terus diperkuat melalui penggunaan varietas atau benih unggul yang lebih toleran terhadap cekaman iklim.
Demikian juga pengaturan naungan kebun menggunakan tanaman pelindung untuk menjaga kestabilan suhu mikro, serta penerapan konservasi tanah dan air melalui pembuatan rorak, terasering, penggunaan mulsa, dan penanaman tanaman penutup tanah.
Pekebun juga didorong melakukan pemangkasan secara rutin guna menjaga sirkulasi udara, menerapkan pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman, memantau perkembangan hama dan penyakit secara berkalac.
Langkah tersebut agar pengendalian dapat dilakukan lebih cepat dan tepat, serta memanfaatkan informasi prakiraan cuaca sebagai dasar penentuan waktu tanam, pemupukan, hingga panen.
Dalam mendukung adaptasi perubahan iklim, Direktorat Jenderal Perkebunan juga terus memperluas penerapan Good Agricultural Practices (GAP), penggunaan benih unggul bersertifikat, pengembangan kebun percontohan, serta peningkatan kapasitas pekebun melalui penyuluhan dan pendampingan berkelanjutan.
Heru menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi perubahan iklim tidak hanya bergantung pada penerapan teknologi budidaya, tetapi juga memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Sinergi antara pemerintah, peneliti, penyuluh, pelaku usaha, dan pekebun menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan subsektor kopi nasional terhadap perubahan iklim,” ujar Heru.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan dan penerapan praktik perkebunan yang ramah lingkungan, kopi Indonesia diharapkan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus mempertahankan daya saingnya di pasar global. (sat)




