a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Kelapa Sawit Industri Berbasis Alam yang Diperkuat dalam SBIN

Menperin Sebut Ekspor Minyak Atsiri Indonesia Tembus USD 348,7 Juta

20 Agustus 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, kinerja ekspor minyak atsiri Indonesia menunjukkan prospek yang semakin positif.

Berdasarkan data perdagangan tahun 2025, nilai ekspor produk minyak atsiri Indonesia pada HS 3301 mencapai USD 348,7 juta, meningkat sekitar 34,4 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar USD 259,5 juta.

“Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa produk minyak atsiri Indonesia memiliki daya saing dan permintaan yang kuat di pasar global. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat industrialisasi dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Pada 2025, Indonesia tercatat sebagai eksportir minyak atsiri terbesar kelima di dunia, setelah India, Amerika Serikat, Prancis, dan Brasil. Pada periode yang sama, nilai perdagangan ekspor minyak atsiri dunia mencapai sekitar USD 6,49 miliar, meningkat dari USD 6,29 miliar pada 2024.

Menperin mengatakan, pengembangan industri minyak atsiri masih menghadapi sejumlah tantangan untuk menghasilkan produk turunan yang bernilai ekonomi lebih tinggi.

Namun, lanjut Menperin, minyak nilai atau patchouli oil memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena Indonesia memiliki basis produksi dan pasar ekspor yang kuat.

Data perdagangan menunjukkan nilai ekspor minyak nilam Indonesia pada 2025 mencapai USD 173,4 juta, meningkat sekitar 22,7 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar USD 141,3 juta.

Produk tersebut telah memiliki pasar ekspor yang tersebar di berbagai negara, antara lain India, Singapura, Prancis, Spanyol, Amerika Serikat, China, Swiss, Belgia, Belanda, Jerman, Britania Raya, dan Turki.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, pengembangan hilirisasi minyak nilam memiliki potensi besar yang dapat diolah melalui teknologi pemurnian dan fraksinasi menjadi produk turunan yang bernilai tambah tinggi seperti hi-grade patchouli, fragrance, antiseptic, medicated oil, dan aromatherapy.

“Dengan penguatan hilirisasi, pemanfaatan minyak nilam dapat diperluas, tidak hanya untuk pasar bahan baku, tetapi juga menjadi input bagi industri parfum, kosmetik, toiletries, farmasi, pestisida, dan aromaterapi,” ujar Putu.

Bangun Ekosistem Industri Atsiri
Putu menambahkan, pengembangan hilirisasi tersebut perlu dilakukan secara terintegrasi dengan memperkuat ekosistem industri dari hulu hingga hilir.

Hal ini mencakup peningkatan kapasitas petani dan penyuling, penguatan kelembagaan seperti koperasi, peningkatan kualitas dan kontinuitas bahan baku, serta perluasan akses pasar dan pembiayaan.

“Penguatan industri atsiri membutuhkan kolaborasi pemerintah, pelaku industri, petani, lembaga riset, perguruan tinggi, dan mitra pasar untuk membangun ekosistem yang kuat dari hulu hingga hilir,” ujar Putu.

Dengan demikian, kata Putu, potensi bahan baku dapat terhubung dengan kebutuhan industri dan pasar global, sekaligus memastikan petani dan penyuling memperoleh manfaat dari meningkatnya permintaan serta industri hilir mendapatkan bahan baku yang berkualitas dan berkelanjutan.

Selain minyak nilam, diversifikasi produk minyak atsiri juga dapat diarahkan pada pengembangan produk seperti parfum dan fragrance, antiseptic dan disinfectant, medicated oil, aromatherapy, serta berbagai produk kosmetik dan perawatan diri.

Kemenperin menilai penguatan hilirisasi minyak atsiri akan memberikan sejumlah manfaat strategis, mulai dari meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas diversifikasi produk industri, membuka peluang investasi dan pasar baru, hingga meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

“Indonesia memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan industri minyak atsiri. Dengan bahan baku, pelaku usaha, teknologi, dan pasar yang semakin berkembang, kita perlu memastikan bahwa peluang ini diterjemahkan menjadi industri hilir yang menghasilkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri,” pungkas Putu. (far)

Tags: KemenperinMinyak atsiri

Related Posts

Pengembangan Perkebunan di Lahan Suboptimal Jadi Peluang Strategis

Kemenperin Perkuat Industri Kakao Siapkan 100 Cocoa Doctor

20 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing...

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

16 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Teh Java Preanger membuka peluang memperluas pasar internasional, khusus ke benua Amerika. Permintaan teh tersebut...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Kementan Perkuat Penerapan Teknologi Adaptif Hadapi Musim Kemarau 2026

Kementan Perkuat Penerapan Teknologi Adaptif Hadapi Musim Kemarau 2026

28 Mei 2026
Harga Referensi Biji Kakao Melemah

Harga Referensi Biji Kakao Periode Mei Naik

3 Mei 2026
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.