PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Pertanian (Kementan) akan mengembangkan komoditas kopi arabika secara bertahap hingga 500 hektare di Kabupaten Puncak, Papua Tengah, untuk memperkuan sumber ekonomu masyarakat.
Peluang pengembangan kopi tersebut sebagai respons langsung dari Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman atas aspirasi Pemerintah Kabupaten Puncak, Papua Tengah.
Mentan Amran meminta Pemkab Puncak memulai pengembangan kopi Arabika secara bertahap dari luasan 100 hektare. Jika mampu dikelola dengan baik, dukungan dapat diperluas hingga 500 hektare.
“Untuk kopi Arabika, coba mulai dulu 100 hektare. Kalau mampu dan berhasil, kita tambah sampai 500 hektare,” ujar Amran dikutip Selasa (25/8/2026).
Mentan Amran juga meminta Direktorat Jenderal Perkebunan berkoordinasi dengan Pemkab Puncak untuk menindaklanjuti pengembangan kopi tersebut.
Menurut Amran, pembangunan pertanian Papua harus terus diperkuat berdasarkan potensi masing-masing wilayah. “Kami sangat peduli dengan Papua. Anggaran total Rp5 triliun tahun 2025-2026 di seluruh wilayah Papua,” katanya.
Dukungan Kementan berupa bantuan alat mesin pertanian (Alsintan). “Saya minta Ditjen PSP (Prasarana dan Sarana Pertanian) segera melihat kebutuhan alsintannya, dan penyuluh juga kita dorong untuk mendampingi,” tambah Amran.
Sejumlah alsintan kecil menjadi kebutuhan mulai dari linggis, cangkul, sekop, parang, dan lain sebagainya. Kebutuhan alsintan tersebut bahkan diusulkan Pemkab Puncak untuk dikirim menggunakan dua pesawat agar dapat segera menjangkau petani di Puncak.
Menurut Wakil Bupati Puncak, Naftali Akawal, bagi Pemkab Puncak bantuan tersebut menjadi penting karena tingginya biaya transportasi membuat distribusi sarana pertanian ke wilayah tersebut tidak mudah. Untuk berpindah dari satu distrik ke distrik lain, masyarakat dan pemerintah daerah bahkan harus menggunakan pesawat kecil.
Selain menghadapi kendala akses, masyarakat Puncak saat ini juga menghadapi kondisi cuaca yang ekstrem. Naftali mengatakan sebagian tanaman masyarakat terdampak kekeringan dan suhu dingin akibat salju.
“Puncak tertinggi di Papua. Dingin di sana luar biasa. Masyarakat sudah menanam, tetapi sekarang banyak yang kering karena es salju turun. Kami datang ke sini membawa harapan karena kebutuhan pertanian sangat penting,” ujar Naftali.
Menurut Naftali, pertanian menjadi salah satu sektor penting yang ingin diperkuat pemerintah daerah. Selain tanaman pangan, Puncak juga memiliki potensi pengembangan kopi dan peternakan.
“Kami butuh untuk di atas itu kopi, peternakan dan pertanian. Sangat penting karena kami masih ketinggalan di Puncak. Kami minta 25 distrik itu harus ada,” ungkap Naftali. (sat)




