a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
BRIN Kembangkan Alat Panen Sawit untuk Keselamatan Kerja Pemanen

BRIN Kembangkan Alat Panen Sawit untuk Keselamatan Kerja Pemanen

24 Juni 2025
0
Share on FacebookShare on Twitter

Perkebunanindonesia.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembangkan alat panen untuk keselamatan kerja pemanen sawit. Perangkat Upper Limb Exoskeleton (ULE) ini dikembangkan bersama Institut Pertanian Bogor (IPB).

Peneliti Ahli Madya BRIN Nugrahaning Sani Dewi mengungkapkan, pekerjaan memanen kelapa sawit, terutama di perkebunan dengan pohon tinggi (>3 meter), menuntut aktivitas fisik berat dan berulang, seperti mengangkat, menegakkan alat panen (egrek), serta memotong pelepah dan tandan sawit.

“Aktivitas ini berisiko menimbulkan gangguan otot dan tulang atau musculoskeletal disorders,” jelas Haning seperti dikutip laman BRIN, Senin (23/6/2025).

Haning menjelaskan bahwa riset ini didanai sepenuhnya oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), dengan fokus pada pengembangan rangka luar (eksoskeleton) untuk tubuh bagian atas yang dirancang khusus guna membantu dan meningkatkan keselamatan kerja pemanen sawit secara manual.

Menurut Haning, teknologi eksoskeleton sebenarnya telah dikembangkan di berbagai negara seperti Jepang, Tiongkok, dan Amerika Serikat.

Namun, kata Haning, belum ada yang secara khusus dirancang untuk mendukung aktivitas pemanenan kelapa sawit secara manual.

“Oleh karena itu, ULE hadir sebagai inovasi pertama yang menyasar kebutuhan industri sawit Indonesia,” jelas Haning.

Haning menuturkan, ULE bekerja dengan mendistribusikan gaya dan beban dari tubuh bagian atas ke bagian tubuh lainnya.

“Struktur rangka luar ini menyatu dengan tubuh pengguna sehingga saat mengangkat alat panen seperti egrek atau dodos, beban tidak hanya ditanggung otot bahu dan lengan, tetapi juga dibantu struktur mekanis ULE. Dengan demikian, tekanan pada otot dapat dikurangi,” terang Haning.

Lebih lanjut Haning mengatakan, berdasarkan analisis biomekanik dan data Electromyography (EMG), ULE mampu mengurangi aktivitas otot, seperti otot bahu dan otot punggung atas dan bawah.

Menurut Haning, kondisi ini membuat otot tidak cepat lelah, postur tubuh tetap stabil, dan menurunkan risiko cedera.

“ULE sendiri tidak digerakkan oleh mesin, melainkan mengikuti gerakan tubuh pengguna secara alami (passive exoskeleton),” ujar Haning.

Dengan sistem tersebut memungkinkan pengguna untuk menjangkau pohon tinggi, mengangkat atau menarik alat panen, dan bergerak dengan lebih stabil dan seimbang.

Pengembangan ULE melibatkan teknologi motion capture system (mocap) untuk merekam gerakan tubuh saat bekerja.

Data tersebut dianalisis secara biomekanik guna memetakan tekanan dan beban otot selama aktivitas pemanenan.

Hasilnya menjadi dasar penyempurnaan desain ULE agar sesuai dengan kondisi kerja riil di lapangan.

Haning menyebut ULE telah melalui serangkaian uji coba yang mencakup analisis fisiologis dan usability test. Hasilnya menunjukkan respons positif.

Para pemanen sawit menilai tingkat kenyamanan dan keamanan alat ini pada kategori ‘dapat diterima’ (acceptable).

“Persepsi positif ini tentu menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesiapan adopsi ULE di lapangan,” ungkap Haning.

Haning berharap agar inovasi karya anak bangsa ini tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja perkebunan sawit, tetapi juga menjadi bagian dari revolusi alat bantu kerja berbasis biomekatronika di sektor agrikultur nasional. (fad)

Tags: Alat panenBRINsawit

Related Posts

Pengembangan Perkebunan di Lahan Suboptimal Jadi Peluang Strategis

Kemenperin Perkuat Industri Kakao Siapkan 100 Cocoa Doctor

20 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing...

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

16 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Teh Java Preanger membuka peluang memperluas pasar internasional, khusus ke benua Amerika. Permintaan teh tersebut...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Minyak Sawit di Kawasan Amerika Utara dan Membagi Manfaat Sawit

GAPKI Sebut Ekspor dan Konsumsi Sawit Periode Mei Turun Lebih Dalam

16 Juli 2026
Presiden Prabowo Sebut Peluncuruan B50 Hemat Devisa Rp 170 Triliun

Presiden Prabowo Sebut Peluncuruan B50 Hemat Devisa Rp 170 Triliun

10 Juli 2026
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.