PERKEBUNAN INDONESIA – Petani kopi di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, kini teranam gagal panen hingga 50 persen akibat perubahan iklim yang ekstrem. Tantangan yang serius dihadapi.
“Adanya perubahan iklim yang ekstrem di Kabupaten Pekalongan petani kopi berpotensi terancam gagal panen sampai 50 persen,” ungkap Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan Sukirman seperti dikutip Antara, Sabtu (2/5/2026).
Padahal, kata Plt Bupati Sukirman, potensi ekspor kopi sangat terbuka peluangnya salah satunya ke Eropa dengan kebutuhan 250 ribu sachet per bulan.
Selain faktor alam, lanjut Sukirman, keterbatasan infrastruktur pengolahan pasca panen seperti alat roasting dan grinder yang representatif juga menjadi kendala utama dalam meningkatkan nilai jual kopi.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mengoptimalkan pemberdayaan ekonomi kreatif pada sektor perkebunan kopi sebagai upaya memperluas potensi pasar.
Lebih lanjut Plt Bupati mengatakan, pihaknya komitmen dalam pemberdayaan ekonomi kreatif ini dengan bekerjasama Perwakilan Bank Indonesia Tegal dan Mercy Corps Indonesia membuka sekolah lapang iklim kopi.
Plt Bupati Sukirman menilai, sinergi lintas sektoral ini sebagai upaya mendukung arahan pemerintah pusat untuk mengembangkan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Menurut Sukirman, pentingnya keterlibatan akademisi dari perguruan tinggi untuk memberikan data objektif guna mendukung kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.
“Melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia dan Mercy Corps, kita akan mendorong sekolah lapangan dan pelatihan teknis bagi petani dengan tujuan mereka tidak hanya menjual biji mentah tapi mampu mengolahnya sendiri dengan standar internasional,” jelas Plt Bupati Sukirman.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Pekalongan Siti Masruroh mengatakan sekolah lapang ini diinisiasi akibat adanya penurunan produktivitas kopi di Desa Sengare dan Desa Jolotigo Kecamatan Talun.
Penurunan ini, kata dia, dipicu oleh dua faktor utama yaitu anomali cuaca yang mengganggu masa tanam dan panen, serta teknis budidaya yang masih rendah seperti kebiasaan “petik pelangi” (memanen buah yang belum matang sempurna). (har/ant)




