Perkebunanindonesia.com – Potensi bioetanol dari limbah sawit di Indonesia mencapai 1,6 juta ton. Namun sayang belum dimanfaatkan.
Demikian disampaikan , Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kimia, Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Roni Maryana.
Rony mengungkapkan, dengan luasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini, diperkirakan dapat menghasilkan limbah kelapa sawit mencapai 50 juta ton per tahun.
“Biomassa sebesar itu yang dapat menghasilkan lebih dari 1,6 juta ton bioetanol,,” ungkap Roni dalam orasi ilmiahnya di Jakarta seperti dikutip Sabtu (28/6/2025).
Rony menuturkan, Indonesia masih menghadapi tantangan kemandirian energi baru dan terbarukan (EBT) yang lebih ramah lingkungan jika dibandingkan energi fosil.
Dalam kebijakan energi nasional (KEN) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 ditargetkan pencapaian EBT sebesar 23 persen dari bauran energi nasional pada tahun 2025 atau 31 persen pada tahun 2050.
Namun faktanya, kata Rony, hingga akhir 2024 Indonesia baru mencapai 14,1 persen dari target 23 persen EBT yang ditetapkan.
Untuk menjawab permasalahan ini, lanjut Rony, pemanfaatan biomassa lignoselulosa seperti limbah kelapa sawit yang melimpah di negeri ini dapat dijadikan alternatif solusi.
Rony menyoroti pentingnya kemandirian energi dan bahan kimia nasional. Indonesia masih bergantung pada bahan kimia impor senilai ratusan juta dolar.
“Dengan memanfaatkan biomassa lokal, kita bisa mengurangi ketergantungan dan menciptakan nilai tambah industri baru yang hijau dan berkelanjutan,” ujar Rony.
Menurut Rony, Indonesia memiliki potensi biomassa sangat besar, khususnya dari limbah perkebunan kelapa sawit seperti tandan kosong kelapa sawit (TKKS).
Dalam paparannya, peneliti pemegang 15 paten ini menjelaskan bahwa biomassa jenis ini dapat dikonversi menjadi bioetanol generasi ke-2 (G2) yang tidak bersaing dengan bahan pangan.
Sayangnya, kata Rony, bioetanol G2 belum dikomersialisasikan di Indonesia. Padahal potensi integrasi bioetanol G1 dan G2 dari kelapa sawit dan tebu sangat besar.
Menurut Rony, teknologi konversi biomassa ini sangat mendukung KEN dan Perpres No. 40/2023 khususnya tentang percepatan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati (biofuel).
Lebih jauh Rony menjelaskan riset dan Inovasinya pada pengembangan reaktor delignifikasi, yaitu teknologi pemisahan lignin dari selulosa untuk meningkatkan efisiensi konversi.
Dua teknologi yang dikembangkan bersama timnya di BRIN yaitu reaktor portabel skala laboratorium, untuk eksperimen paralel dan screw continuous reactor (SCR).
Teknologi skala pilot itu memungkinkan pemrosesan biomassa secara kontinu dengan efisiensi tinggi dan lebih ramah lingkungan.
Rony berharap, teknologi yang dikembangkannya bersama tim dapat mendukung transisi energi bersih dan ekonomi sirkular di Indonesia.
“Dari laboratorium hingga ladang sawit, inovasi konversi biomassa kini menjadi harapan baru dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri energi bersih dan berkelanjutan,” pungkas.Rony.
Pria kelahiran Ciamis 46 tahun ini dikukuhkan BRIN sebagai salah satu Profesor Riset bidang teknologi konversi biomassa dan biopolimer, Rabu (24/6/2025 (har)




