Perkebunanindonesia.com – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan mendorong hilirisasi rempah sebagai strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat posisi Indonesia di pasar dunia.
Keberhasilan pala asal Maluku menembus pasar ekspor Eropa menjadi bukti bahwa rempah Indonesia memiliki daya saing tinggi di tingkat global.
Demikian diungkapkan Plt. Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan, Kementan, Abdul Roni Angkat, saat kunjungannya ke PT Kabong Tanipala Maluku (PT KTM) di Ambon, Jumat (1/8/2025).
“Komoditas pala memiliki nilai ekonomi tinggi, namun untuk bisa bersaing di pasar ekspor, kita harus memastikan penanganannya dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Mulai dari budidaya, panen, hingga pasca panen harus memenuhi standar mutu,” ungkap Abdul Roni.
Abdul Roni menekankan pentingnya penerapan praktik budidaya yang berkelanjutan dan penanganan pascapanen yang baik dan benar.
Menurut Abdul Roni, salah satu tantangan adalah soal kontaminasi aflatoksin dan okratoksin, yang kerap menghambat kualitas ekspor rempah.
Karena itu, kata Abdul Roni, edukasi kepada petani dan penggunaan teknologi pengolahan sederhana seperti mesin pengering menjadi fokus pembinaan Kementan ke depan.
Lebih lanjut, Abdul Roni menyampaikan bahwa Kementan, khususnya Ditjen Perkebunan, akan terus mendampingi petani pala melalui program fasilitasi teknis, penguatan kelembagaan, serta perluasan akses pasar.
Plt Dirjen Perkebunan juga menyebut bahwa sinergi antar pelaku usaha, pemerintah daerah, dan petani menjadi kunci utama dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen rempah dunia.
Kementan pun telah memberikan Anugerah Perkebunan Indonesia dalam ajang BUNEX 2022 untuk kategori Giat Ekspor Hasil Perkebunan.
KTM dinilai aktif mengikuti berbagai forum dan pameran nasional, seperti BUNEX 2023, sebagai bentuk komitmen dalam membangun ekosistem rempah yang kompetitif dan inklusif.
Menurut Abdul Roni, upaya peningkatan produktivitas dan mutu pala melalui penanganan pascapanen yang baik dan benar harus terus dilakukan.
“Kami juga menyoroti perlunya edukasi berkelanjutan kepada petani, khususnya terkait cara meminimalkan cemaran aflatoksin dan okratoksin, yang selama ini menjadi tantangan utama dalam menjaga kualitas ekspor,” ujar Roni.
Roni menambahkan, kisah sukses PT KTM menjadi contoh nyata bahwa hilirisasi rempah bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga menghasilkan manfaat langsung bagi petani dan perekonomian daerah.
Dukungan terhadap pelaku usaha berorientasi ekspor akan terus ditingkatkan melalui fasilitasi kebijakan, edukasi teknis, dan penguatan dari hulu ke hilir.
Baca juga : Kementan Genjot Perkebunan di Maluku
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan apresiasi atas keberhasilan ekspor pala Maluku dan menegaskan pentingnya transformasi Indonesia dari sekadar produsen bahan mentah menjadi negara pengolah dan pengekspor produk pertanian bernilai tambah tinggi.
Selain itu, hilirisasi produk pertanian merupakan jalan cepat Indonesia untuk menjadi negara mandiri dan berpengaruh secara global sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kita dorong terus hilirisasi komoditas perkebunan, termasuk pala Maluku yang terbukti mampu tembus pasar ekspor premium. Kita ingin petani sejahtera, ekonomi tumbuh, dan Indonesia jadi pemain utama di pasar rempah dunia,” jelas Mentan Amran.
Baca juga : Kementan Dorong Percepatan Hilirisasi Perkebunan
PT KTM menjadi pelaku usaha yang berhasil mengembangkan rempah berstandar ekspor yang rutin mengirimkan pala berkualitas tinggi ke pasar internasional.
Perusahaan ini dikenal sebagai eksportir berbagai hasil rempah, seperti cengkeh, minyak kayu putih, tepung sagu, dan kenari, dengan pala sebagai komoditas andalan.
Komoditas utama yang diekspor mencakup pala berkualitas tinggi dalam kategori Pala ABCD, Pala Shrivels, dan Mace Broken (bunga pala).
Produk-produk tersebut telah berhasil menembus pasar Uni Eropa, khususnya Belanda, yang dikenal memiliki standar mutu dan keamanan pangan yang sangat ketat.
PT KTM telah mengekspor lebih dari 50 ton rempah-rempah ke pasar internasional. Pada pengiriman terbaru di Agustus 2025, sebanyak 9,5 ton pala berkualitas tinggi berhasil diekspor ke Belanda.
Produk rempah tersebut bahkan memperoleh predikat High Premium Quality setelah melalui uji laboratorium di Eropa.
Penggunaan mesin pengering dinilai mampu meningkatkan efisiensi, menjaga kualitas produk, dan meminimalkan risiko penolakan pasar akibat cemaran.
Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementan dalam memperkuat rantai pasok dari sisi kualitas dan keberlanjutan, khususnya pada komoditas ekspor seperti pala.
Sebagai informasi, PT KTM juga telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 500 petani lokal yang tersebar di berbagai wilayah Maluku.
Pola kemitraan ini dinilai sebagai bentuk model bisnis inklusif yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan petani secara langsung. (sat)




