PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong untuk mengulas kelayakan finansial industri karbon aktif berbahan baku cangkang kelapa sawit dan batu bara karena tingginya kebutuhan di dalam negeri.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) BRIN, David Candra Birawidha, mengungkapkan pihaknya berkomitmen penuh menjembatani kesenjangan antara riset laboratorium dengan kebutuhan nyata dunia industri.
Menurut David, sinergi dengan mitra penyedia jasa engineering dinilai menjadi kunci utama percepatan komersialisasi produk mineral non-bahan bakar di dalam negeri.
“PRTM BRIN memosisikan diri sebagai episentrum inovasi teknologi mineral nasional. Melalui forum kajian tekno-ekonomi seperti ini, kami ingin memastikan setiap paten dan desain proses yang dilahirkan periset BRIN tidak berhenti di atas kertas, tetapi memiliki dasar keekonomian yang matang, kompetitif, dan siap diadopsi oleh mitra manufaktur lokal,” jelas David.
Wawan Irawan dari CV Pehakarsa Multitek Engineering, mengungkapkan, perbandingan keekonomian pabrik karbon aktif berbahan baku batu bara dengan cangkang sawit kapasitas 25 ribu ton bahan baku per tahun.
“Analisis ini menitikberatkan perbandingan struktur biaya investasi awal (CAPEX), pengeluaran operasional (OPEX), serta proyeksi margin keuntungan dari kedua komoditas andalan Indonesia tersebut,” jelas Wawan dalam sebuah webinar Diseminasi seri ke-9, Rabu (24/6/2026).
Wawan menerangkan, kapasitas input sebesar 25 ribu ton bahan baku per tahun akan menghasilkan volume tonase produk akhir yang berbeda akibat karakteristik inherent dari masing-masing material. B
Batu bara peringkat rendah hingga sedang memiliki keunggulan pada stabilitas suplai jangka panjang yang tidak musiman serta kadar karbon tetap (fixed carbon) yang tinggi.
Sebaliknya, cangkang kelapa sawit menawarkan keunggulan ramah lingkungan sebagai sumber daya hayati terbarukan (biomassa) dengan struktur porositas alami yang sangat baik. Namun kelemahannya rentan fluktuasi harga bahan baku di tingkat pengepul regional.
Dari sisi CAPEX, pabrik berbasis batu bara memerlukan investasi pada reaktor pembakaran, unit preparasi awal, sistem penanganan material, serta pengendalian emisi sulfur.
Sedangkan pabrik berbasis cangkang sawit membutuhkan area pergudangan yang luas akibat rendahnya densitas kamba biomassa.
Sementara itu, dari sisi OPEX, konsumsi energi termal menjadi faktor penentu. Di mana, proses karbonisasi batu bara dapat memanfaatkan zat terbang sebagai bahan bakar mandiri, sehingga lebih efisien dalam menekan biaya energi dibandingkan aktivasi cangkang sawit.
“Pada skala input industri hulu sebesar 25 ribu ton per tahun, penentu utama titik impas bukan hanya harga bahan baku di gerbang pabrik, melainkan konsistensi nilai kalor proses serta persentase hasil (yield) karbon aktif yang memenuhi spesifikasi pasar,” kata Wawan.
Secara umum, tambah Wawan, batu bara maupun cangkang sawit menunjukkan kelayakan yang prospektif di pasar domestik karena harga jual karbon aktif lokal mampu menekan biaya rantai logistik impor. (far)




