PERKEBUNAN INDONESIA – PT Pupuk Indonesia (Persero) melanjutkan membangun dan merevitalisasi delapan pabrik dalam lima tahun ke depan untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kemandirian industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Industrialisasi merupakan DNA Pupuk Indonesia sejak pembangunan Pabrik PUSRI pada 1959, dan transformasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutannya agar semakin efisien dalam operasional, tangguh, dan mampu menjawab kebutuhan pangan serta industri nasional dalam jangka panjang,” ujar Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi, Senin (5/10/2026).
Menurut Rahmad, transformasi yang dijalankan bersama Danantara telah memperkuat kinerja dan daya saing Pupuk Indonesia, sekaligus melakukan reinvestasi dan meneruskan estafet industrialisasi.
Pupuk Indonesia menjalankan agenda industrialisasi pada dua lini sekaligus. Pertama, memperkuat industri pupuk sebagai jangkar ketahanan pangan melalui revitalisasi dan ekspansi kapasitas produksi.
Kedua, mendorong hilirisasi gas bumi dan pengembangan produk kimia bernilai tambah untuk memperkuat kemandirian industri nasional.
Agenda tersebut diwujudkan melalui pembangunan dan revitalisasi delapan pabrik dalam lima tahun ke depan, yang mencakup revitalisasi Amurea Pusri IIIB untuk meningkatkan efisiensi energi, serta pengembangan Amurea Papua Barat, Amurea PIM III, dan Pabrik NPK Steam Granulasi Gresik untuk memperkuat kapasitas produksi.
Di sisi lain, Pupuk Indonesia mendorong diversifikasi melalui pengembangan Soda Ash di Bontang dan Gresik, serta hilirisasi gas bumi melalui proyek metanol di Lhokseumawe dan Bontang.
Tak hanya itu Pupuk Indonesia memiliki inisiatif strategis jangka panjang melalui pengembangan Kawasan Industri Pupuk Fakfak di Papua Barat serta pembangunan pabrik amonia dan urea (Amurea) di Maluku sebagai bagian dari upaya menciptakan nilai tambah dari sumber daya alam dan mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur.
Rahmad mengatakan, industrialisasi harus mampu menumbuhkan industri baru, membuka lapangan kerja, memperkuat ekosistem nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan kimia strategis.
“Pengembangan produk bernilai tambah menjadi bagian dari upaya kami memperkuat posisi Pupuk Indonesia sebagai industrial and specialty chemical powerhouse di tingkat global,” kata Rahmad.
Sepanjang 2025, Pupuk Indonesia menyalurkan 8.110.571 ton pupuk bersubsidi, meningkat 10,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut didukung implementasi sistem i-Pubers hingga Command Center yang mempercepat dan mempermudah proses penebusan, serta penerapan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang menyederhanakan tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi agar distribusi semakin cepat, mudah, dan tepat sasaran.
Dengan kapasitas produksi sekitar 14,8 juta ton per tahun, Pupuk Indonesia terus memastikan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri sebagai prioritas.
Revitalisasi pabrik, pembangunan kapasitas baru, dan diversifikasi usaha akan memperkuat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan masa depan sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.
“Bagi kami, keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari kinerja keuangan atau seberapa banyak pupuk yang diproduksi, tetapi dari seberapa besar kontribusi Pupuk Indonesia dalam memastikan pupuk semakin mudah diakses petani, memperkuat industri nasional, dan menjaga keberlanjutan swasembada pangan,” pungkas Rahmad. (fad)




