Perkebunanindonesia.com – Pemerintah perlu lebih serius memberikan perhatian pada industri teh. Karena saat ini teh tidak termasuk dalam 10 komoditas unggulan
Demikian diungkapkan Pakar teh Dadan Rohdiana dalam workshop Tea Fest 2025 di Bandung, Sabtu (19/7/2025).
“Pemerintah seperti memandang sebelah mata terhadap teh, berbeda dengan komoditas seperti lada,” kata Dadan.
Padahal, lanjut Dadan, dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, konsumsi teh dalam negeri sebenarnya sudah cukup tinggi. Namun produksi nasional hanya sekitar 90 ribu ton per tahun.
“Kalau satu orang minum satu gram saja, teh kita masih kurang. Kita malah terpaksa impor teh kualitas bagus dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan,” tukas Dadan.
Dadan mengungkapkan, permasalahan di industri teh terjadi mulai dari hulu hingga hilir. Di tingkat petani, produktivitas masih rendah, sementara akses pembiayaan dari perbankan juga sulit didapat.
Menurut Dadan, pemerintah harus lebih aktif lagi mendorong teh menjadi komoditas utama. Apalagi Jawa Barat (Jabar) sebagai daerah penghasil teh terbesar di Indonesia.
Dadan menyebutkan, Jabar menyumbang sekitar 70 persen total produksi teh nasional, harus tidak susah untuk meningkatkan popularitasnya.
“Pemerintah perlu menempatkan teh menjadi komoditas unggulan. Ketika teh dijadikan komoditas unggulan, maka perhatian teh pemerintah akan bagus,” jelas Dadan.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Alfiansyah Bustami atau yang lebih dikenal sebagai Komeng mengatakan, demi menaikan pamor teh di Indonesia harus ada pergerakan bersama dari mulai masyarakat, petaninya, bahkan para investor.
Komeng yakin kalau semua kompak, teh di Indonesia dan terutama Jawa Barat untuk semakin mempopulerkan teh.
“Jadi, ya yang itu tadi, maksudnya teh ini jangan ketinggalan dengan minuman yang lain,” ujar Komeng.
Sementara itu, ketua Panitia Tea Fest 2025, Arys Buntara, menerangkan, pihaknya ingin masyarakat melihat dan merasakan sendiri bahwa teh rakyat punya kualitas dan rasa yang baik.
Menurut Arys, teh rakyat bisa beradaptasi terhadap selera konsumen saat ini, termasuk generasi muda.
Arys juga mengungkapkan keprihatinannya: kondisi produksi teh rakyat di Jawa Barat tengah menghadapi tantangan serius.
Lahan kebun teh terus menyusut akibat alih fungsi menjadi lahan sayuran dan properti, yang berdampak pada turunnya volume produksi dan nilai jual teh kering di pasaran.
“Harga teh kering saat ini hanya sekitar Rp13.000 per kilogram. Padahal, di angka Rp14.000–15.000 saja, petani sudah kesulitan,” kata Arys.
Para petani pun berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah, terutama dalam hal pembinaan, pendampingan, dan peningkatan kapasitas produksi.
Arys mengatakan, salah satu kendala yang dihadapi adalah kurangnya penerapan Good Agricultural Practices (GAP) di lapangan.
Menurut Arys, kualitas teh Indonesia sebenarnya sangat bagus. Kontur tanah mendukung.
“Tapi petani butuh pendampingan agar hasilnya bisa bersaing dengan produk dari Tiongkok, Jepang, atau Vietnam,” ujar Arys. (yr)





Comments 1