PERKEBUNAN INDONESIA – Meski ada konflik global memicu lonjakan biaya logistik dan asuransi pengiriman hingga sekitar 50 persen, ekspor sawit Indonesia hingga kini masih berjalan.
“Dengan perang ini yang kondisi global seperti ini kita bersyukur sawit masih jalan. Sawit masih ekspornya masih jalan,” ungkap Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Eddy mengakui, konflik Amerika Sarikat-Israel dengan Iran berdampak terjadinya kenaikan biaya yang luar biasa. “Kenaikan biaya logistik dengan insurance itu kira-kira 50 persen kenaikannya,” katanya.
Menurut Eddy, meskipun ada indikasi penurunan permintaan baru akibat kenaikan biaya transportasi, kontrak ekspor yang sudah berjalan tetap dipenuhi dan pengiriman masih berlangsung ke berbagai negara tujuan utama seperti India dan China.
Di dalam negeri, tambah Eddy, konsumsi sawit juga terus meningkat, terutama untuk kebutuhan energi melalui program biodiesel.
Eddy menyebutkan, pada 2025, konsumsi domestik mencapai 24,7 juta ton, naik sekitar 3,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara konsumsi biodiesel sendiri meningkat hingga 12,7 juta ton, naik sekitar 10,9 persen.
Minyak sawit merupakan salah satu komoditas yang menjadi penopang utama ekspor Indonesia. Pada 2025, produksi crude palm oil (CPO) Indonesia mencatatkan peningkatan signifikan.
“Tahun 2025 ini ada kenaikan produksi dari CPO itu kira-kira 51 juta ton atau secara total ini secara total produksi kita dengan PKO itu nah 56 juta,” kata Eddy.
Data menunjukkan produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton, naik sekitar 7,5 persen dibanding 2024 yang berada di angka 48,16 juta ton.
Kenaikan ini turut didukung kondisi cuaca yang baik sepanjang tahun serta harga sawit yang relatif tinggi pada tahun sebelumnya sehingga petani lebih intensif merawat kebun.
Di sisi pasar global, permintaan ekspor juga masih kuat. Sepanjang 2025, volume ekspor sawit Indonesia tumbuh 9,5 persen, dari 29,5 juta ton menjadi 32,3 juta ton. Harga minyak sawit yang relatif lebih kompetitif dibanding minyak nabati lain menjadi faktor pendorong utama.
Program biodiesel menjadi bagian penting dari strategi Indonesia mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor.
Saat ini implementasi program berada pada bauran B40, dengan peningkatan ke level lebih tinggi seperti B50 dalam jangka panjang.
Menurut Eddy, peningkatan program biodiesel harus diiringi dengan peningkatan produksi agar tidak mengganggu keseimbangan ekspor.
“Menteri Pertanian minta supaya kita memang setuju untuk peningkatan produktivitas untuk meningkatkan produksi kita karena program pemerintah ini akan swasembada energi utamanya untuk biodiesel. Jalan satu-satunya adalah kita harus meningkatkan produksi.” Ungkap Eddy. (sat)




