PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Koperasi (Kemenkop) menggandeng PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) membangun ekosistem perkebunan kelapa sawit berbasis koperasi di Indonesia.
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan, langkah ini untuk memperkuat posisi tawar petani melalui wadah koperasi, baik di sektor hulu maupun hilir.
“Kami ingin membangun model di mana PT Agrinas sebagai inti, dan koperasi-koperasi sawit dikembangkan sebagai mitra plasma. Setidaknya 20 persen dari lahan produktif akan dikelola oleh koperasi,” ujar Menkop dikutip Sabtu (4/7/2026).
Saat ini, sebut Menkop, tercatat ada 1.135 koperasi existing yang sudah bergerak di sektor sawit dan akan diintegrasikan dalam ekosistem baru ini.
Melalui kerja sama ini, lanjut Menkop, koperasi didorong untuk tidak hanya memiliki kebun, tetapi juga memiliki pabrik pengolahan sendiri.
“Sebuah ironi jika masyarakat petani punya sawit, tapi mereka harus antre minyak goreng. Koperasi adalah instrumen untuk menjadikan tata niaga sawit lebih adil. Kita akan dampingi agar mereka profesional dan mandiri,” jelas Menkop.
Menkop Ferry Juliantono optimistis bahwa keterlibatan koperasi dalam skala industri besar akan meningkatkan kesejahteraan petani secara signifikan. Ia menekankan bahwa koperasi saat ini memiliki kapasitas finansial dan pengalaman yang mumpuni.
“Koperasi sekarang masuk ke proses produksi, punya pabrik CPO sendiri, hingga produk turunan seperti minyak goreng atau minyak makan merah yang nantinya dijual kembali di koperasi desa. Ini adalah bentuk kedaulatan ekonomi masyarakat,” ungkap Menkop.
Sebagai langkah konkret, Kemenkop akan meresmikan pabrik Crude Palm Oil (CPO) milik koperasi di Musi Banyuasin pada akhir Juli atau awal Agustus mendatang.
Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Muhammad Abdul Ghani, mengungkapkan, pihaknya saat ini ditugaskan mengelola lahan seluas 850.000 hektare di kawasan hutan yang sebelumnya diambil alih oleh Satgas PKH. Lahan ini rencananya akan diperluas hingga mencapai 1,25 juta hektare.
Abdul Ghani menyebutkan, dari total lahan tersebut, minimal 250.000 hektare akan dialokasikan untuk plasma yang dikelola oleh sekitar 250 koperasi.
“Kami juga mengidentifikasi lebih dari 120.000 hektar sawit rakyat yang selama ini ikatan formalnya belum jelas, untuk dihimpun dalam koperasi,” jelas Abdul Ghani.
Tak hanya fokus pada sawit, kerja sama ini juga mencakup pengembangan komoditas pertanian strategis lainnya guna mendukung swasembada pangan dan energi nasional.
Agrinas akan menanam 400.000 hektare kedelai, 250.000 hektare jagung, serta 300.000 hektare singkong sebagai bahan baku energi terbarukan (etanol).
“Artinya, dari seluruh aspek bisnis Agrinas, kita akan bermitra dengan koperasi. Di Sumatra Utara sendiri, tahun ini kami akan mulai melakukan piloting penanaman 1.500 hektare bersama koperasi,” tambah Abdul Ghani. (fad)




