PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kopi, teh dan rempah-rempah (HS 09) menjadi komoditas sektor pertanian yang turun ekspor mencapai 40,15 persen.
“Kinerja ekspor sektor pertanian turun 32,18 persen. Kopi, teh dan rempah-rempah (HS 09) menjadi komoditas sektor pertanian dengan penurunan ekspor terdalam sebesar 40,15 persen,” ungkap Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Meski begitu, lanjut Mendag, secara total neraca perdagangan Indonesia periode Maret 2026 kembali mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,32 miliar.
“Surplus yang terus berlanjut pada periode Maret 2026 ini menunjukkan fundamental perdagangan Indonesia tetap kuat,” ujar Mendag.
Menurut Budi, capaian ini memperpanjang tren surplus neraca perdagangan Indonesia menjadi 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, menunjukkan ketahanan sektor eksternal di tengah dinamika global.
“Indonesia tetap menjaga surplus bulanannya. Kemudian, ekspor nonmigas menopang kinerja perdagangan Januari—Maret 2026, khususnya dari sektor industri pengolahan yang semakin berdaya saing di pasar global,” jelas Mendag.
Mendang menyebut, kinerja surplus Maret 2026 terutama ditopang sektor nonmigas yang mencatatkan surplus sebesar USD 5,21 miliar, meskipun sektor migas masih defisit sebesar USD 1,89 miliar.
Secara kumulatif Januari–Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD 5,55 miliar.
Surplus tersebut terdiri atas surplus nonmigas sebesar USD 10,63 miliar dan defisit migas sebesar USD 5,08 miliar. Surplus nonmigas terutama ditopang tiga komoditas utama.
Lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) mencatat surplus senilai USD 8,68 miliar, diikuti bahan bakar mineral (HS 27) USD 6,22 miliar, serta besi dan baja (HS 72) USD 4,29 miliar.
Surplus nonmigas Indonesia terbesar di periode tersebut berasal dari Amerika Serikat (AS) dengan nilai USD 5,06 miliar, disusul India sebesar USD 3,36 miliar, dan Filipina sebesar USD 2,05 miliar.
Sementara itu, defisit nonmigas terdalam tercatat dengan Tiongkok sebesar USD 5,52 miliar, diikuti Australia sebesar USD 2,38 miliar, dan Prancis sebesar USD 0,63 miliar.
Pada Maret 2026, kinerja ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 22,53 miliar atau tumbuh 1,62 persen dibandingkan Februari 2026 (MtM), meskipun secara tahunan masih terkontraksi 3,10 persen (YoY).
Peningkatan ekspor secara bulanan didorong lonjakan ekspor migas sebesar 18,60 persen, sementara ekspor nonmigas tumbuh terbatas sebesar 0,75 persen.
Kenaikan ekspor nonmigas ditopang peningkatan signifikan pada sejumlah komoditas utama, di antaranya bijih logam, terak dan abu (HS 26) yang melonjak 8.055,36 persen, aluminium (HS 76) 112,99 persen, serta logam mulia dan perhiasan (HS 71) 98,89 persen.
Selain itu, pertumbuhan juga didukung oleh meningkatnya permintaan dari mitra dagang utama, khususnya Hong Kong yang tumbuh 78,20 persen, Thailand 67,08 persen, dan Taiwan 29,38 persen (MtM).
Secara kumulatif Januari–Maret 2026, total ekspor Indonesia mencapai USD 66,85 miliar atau tumbuh tipis 0,34 persen dibandingkan Januari—Maret 2025 (CtC).
Kinerja ini terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang meningkat 0,98 persen yang menjadi USD 63,60 miliar di tengah kontraksi ekspor migas sebesar 10,58 persen yang menjadi USD 3,25 miliar. (far)




