a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Petani Teh Enggan Manfaatkan KUR, Begini Sebabnya

Kemendag Catat Ekspor Teh, Kopi dan Rempah Turun Banyak

6 Mei 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kopi, teh dan rempah-rempah (HS 09) menjadi komoditas sektor pertanian yang turun ekspor mencapai 40,15 persen.

“Kinerja ekspor sektor pertanian turun 32,18 persen. Kopi, teh dan rempah-rempah (HS 09) menjadi komoditas sektor pertanian dengan penurunan ekspor terdalam sebesar 40,15 persen,” ungkap Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).

Meski begitu, lanjut Mendag, secara total neraca perdagangan Indonesia periode Maret 2026 kembali mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar USD 3,32 miliar.

“Surplus yang terus berlanjut pada periode Maret 2026 ini menunjukkan fundamental perdagangan Indonesia tetap kuat,” ujar Mendag.

Menurut Budi, capaian ini memperpanjang tren surplus neraca perdagangan Indonesia menjadi 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, menunjukkan ketahanan sektor eksternal di tengah dinamika global.

“Indonesia tetap menjaga surplus bulanannya. Kemudian, ekspor nonmigas menopang kinerja perdagangan Januari—Maret 2026, khususnya dari sektor industri pengolahan yang semakin berdaya saing di pasar global,” jelas Mendag.

Mendang menyebut, kinerja surplus Maret 2026 terutama ditopang sektor nonmigas yang mencatatkan surplus sebesar USD 5,21 miliar, meskipun sektor migas masih defisit sebesar USD 1,89 miliar.

Secara kumulatif Januari–Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD 5,55 miliar.

Surplus tersebut terdiri atas surplus nonmigas sebesar USD 10,63 miliar dan defisit migas sebesar USD 5,08 miliar. Surplus nonmigas terutama ditopang tiga komoditas utama.

Lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) mencatat surplus senilai USD 8,68 miliar, diikuti bahan bakar mineral (HS 27) USD 6,22 miliar, serta besi dan baja (HS 72) USD 4,29 miliar.

Surplus nonmigas Indonesia terbesar di periode tersebut berasal dari Amerika Serikat (AS) dengan nilai USD 5,06 miliar, disusul India sebesar USD 3,36 miliar, dan Filipina sebesar USD 2,05 miliar.

Sementara itu, defisit nonmigas terdalam tercatat dengan Tiongkok sebesar USD 5,52 miliar, diikuti Australia sebesar USD 2,38 miliar, dan Prancis sebesar USD 0,63 miliar.

 Pada Maret 2026, kinerja ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 22,53 miliar atau tumbuh 1,62 persen dibandingkan Februari 2026 (MtM), meskipun secara tahunan masih terkontraksi 3,10 persen (YoY).

Peningkatan ekspor secara bulanan didorong lonjakan ekspor migas sebesar 18,60 persen, sementara ekspor nonmigas tumbuh terbatas sebesar 0,75 persen.

Kenaikan ekspor nonmigas ditopang peningkatan signifikan pada sejumlah komoditas utama, di antaranya bijih logam, terak dan abu (HS 26) yang melonjak 8.055,36 persen, aluminium (HS 76) 112,99 persen, serta logam mulia dan perhiasan (HS 71) 98,89 persen.

Selain itu, pertumbuhan juga didukung oleh meningkatnya permintaan dari mitra dagang utama, khususnya Hong Kong yang tumbuh 78,20 persen, Thailand 67,08 persen, dan Taiwan 29,38 persen (MtM).

Secara kumulatif Januari–Maret 2026, total ekspor Indonesia mencapai USD 66,85 miliar atau tumbuh tipis 0,34 persen dibandingkan Januari—Maret 2025 (CtC).

Kinerja ini terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang meningkat 0,98 persen yang menjadi USD 63,60 miliar di tengah kontraksi ekspor migas sebesar 10,58 persen yang menjadi USD 3,25 miliar. (far)

Tags: Ekspor kopiEkspor RempahkemendagTeh

Related Posts

Pengembangan Perkebunan di Lahan Suboptimal Jadi Peluang Strategis

Kemenperin Perkuat Industri Kakao Siapkan 100 Cocoa Doctor

20 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing...

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

16 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Teh Java Preanger membuka peluang memperluas pasar internasional, khusus ke benua Amerika. Permintaan teh tersebut...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Menteri ATR Sebut Kebijakan Plasma untuk Pemerataan Ekonomi

Menteri ATR Sebut Kebijakan Plasma untuk Pemerataan Ekonomi

27 Mei 2025
Kementan Panen Perdana Padi Gogo di Lahan PSR

Kementan Panen Perdana Padi Gogo di Lahan PSR

30 Mei 2025
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.