PERKEBUNAN INDONESIA – Iriana Ekasari pimpin Dewan Teh Indonesia (DTI) periode 2025 – 2029 setelah terpilih dalam Rapat Umum Anggota DTI 2025. Ada sembilan program prioritas yang akan dijalankan mulai dari hulu hingga hilir.
Di tengah tekanan agribisnis teh Indonesia saat ini menjadi tantangan para pengurus DTI dalam lima tahun ke depan. Apalagi tidak dimasukannya teh sebagai komoditas strategis merupakan pertanyaan besar dan memprihatinkan bagi Masyarakat per-teh-an.
“Kita harus bersama-sama, terutama para pelaku di sektor hulu, untuk mendorong pemerintah agar dapat menyediakan anggaran untuk bantuan bibit dan saprodi bagi kebun-kebun rakyat, agar produktivitas meningkat, sebagaimana pernah dilaksanakan pemerintah pada Gerakan GPATN tahun 2014 – 2017,” ujar Plt Ketua Umum DTI Agus Supriyadi dalam Laporan Pertanggungjawab, Kamis (18/12/2025).
Di samping itu, tambah Agus, pihaknya meminta pemerintah menyediakan kredit investasi untuk peremajaan kebun dan pabrik teh dengan bunga rendah kepada PBN dan PBS.
“Kami juga mengusulkan agar komoditi teh mendapat bantuan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagaimana komoditi kelapa sawit, kelapa dan kakao (Pepres 132/2024),” ungkap Agus.
Selain itu, tambah Agus, DTI terus memperjuangkan iklim usaha agribisnis teh yang kondusif serta melindungi para produsen dalam negeri dari persaingan yang tidak adil dengan teh impor.
“Volume teh impor semakin meningkat, terutama dari Vietnam, dengan harga murah karena tidak dikenakan bea masuk. Karenanya perlu diperjuangkan agar ada kenaikan bea masuk (BM) dan ketentuan MRL yang lebih ketat bagi teh yang diimpor,” jelas Agus.
Agus mengatakan, over suplay teh dunia masih terus berlangsung sejak lebih dari 10 tahun beakang ini.
“Oleh karena itu perlu didorong agar para produsen menghasilkan teh dengan kualitas yang lebih baik lagi agar harga teh Indonesia tidak terus menurun seperti yang terjadi saat ini,” ujar Agus.
DTI memandang peningkatan mutu teh tidak hanya ditujukan kepada produsen-produsen teh untuk keperluan ekspor, akan tetapi juga kepada para produsen teh untuk pasar lokal.
“Menurunnya mutu teh yang dilelangkan di tengah oversuplay dunia akan semakin menurunkan harga jual teh kita. Penurunan harga dan penurunan mutu ini merupakan lingkaran setan yang harus dicarikan terobosan jalan keluarnya,” terang Agus.
DTI memandang semakin kreatifnya generasi muda dalam menciptakan minuman berbahan baku teh perlu terus dipupuk, dibina dan dikembangkan, melalui promosi dalam bentuk expo atau kompetisi yang sehat.
“Perlu kita sadari bersama bahwa paradigma masyarakat, terutama kaum milenial, terhadap teh sudah berubah,” tegas Agus.
Menurut Agus, teh tidak lagi hanya merupakan minuman pelepas dahaga dan minuman yang menyehatkan. Namun minuman teh telah menjadi gaya hidup dengan berbagai cara mencampur (mix) dengan bumbu-bumbu cerita yang menarik serta gaya menyajikannya (serve) yang sangat berbeda dari kebiasaan selama ini.
“Oleh karenanya ada ungkapan, yang menurut saya sangat tepat, yang mengatakan : “The value of tea is no longer measured by quality, price and taste alone, but by the story,” kata Agus.
Rapat Umum Anggota DTI tahun 2025 menjadi strategis di tengah berbagai tekanan agribisnis teh nasional. Meski dari sisi hilir perkembangan olahan teh semakin pesat dengan berbagai varian. Namun dari sisi hulu, teh nasional semakin terpuruk. Luas areal dan produksi terus menurun. Demikian juga dari segi mutu teh yang dihasilkan. (yer)
Berikut Susunan Pengurus Dewan Teh Indonesia 2025 – 2029
Dewan Pembina : Rachmat Pambudy (Ketua)
Dewan Pengawas :
1. M Abdul Ghani
2. Delima Hasri Azahari
3. Bayu Krisnamurti
Dewan Pengurus:
Ketua Umum : Iriana Ekasari (PBS)
Ketua:
1. Fauzi Omar (PBN)
2. Farid Akbani (Trader)
3. Harry Hendrarto (Hilir Retail)
4. Andrew Supit (Hilir Packer)
5. Henry Prastanto (PPTK)
6. Nanang Kristianto (Teh Rakyat)





Saya memiliki pendapat dari sisi yg berbeda. Sebenarnya teh dunia tidak over supply. Harga teh hitam Indonesia lebih rendah dari S.Lanka, Kenya, china atau India bukan disebabkan over supply, tapi memang jenis produk segmen oasarnya beda (O.broken). S. Lanka o. Leafy, Kenya ctc, china green tea. Jadi strategi bersaing dengan mereka kita harus diversifikasi produk dg bahan baku fine-plucking. Masuk ke arena ini basically protas sebelumnya harus tinggi (pucuk medium), karena pucuk halus/medium murni bisa menurunkan protas Dan menaikan biaya produksi. Belum dohitung investasi di pengolahan. Karena itu solusi menaikan harga jual tsb harus dilakukan dengan meningkatkan protas 2-3 kali lebih tinggi dari protas sebelumnya. Ini berimplikasi pada peningkatan efisiensi1 dg penurunan hpp sampai 30%. Teknologi utk meningkatkan protas Dan efisiensi tersebut sudah ada dan teruji dilapangan, namanya IKB e-5ooo yg diadopsi perkebunan Tambi sejak tahun 2011. Saat ini Kondisi kebunnua masuk ategori kelas I. Salaam