PERKEBUNAN INDONESIA – Pemerintahan Prabowo mengelontorkan dana Rp. 9,5 trilIun untuk pengembangan tujuh komoditas perkebunan, yakni kakao, kopi, kelapa, pala, lada, mente, tebu untuk 2025 – 2027. Kegiatan ini berdampak pada penumbuhan usaha penangkaran dan menciptakan kegiatan ekonomi di desa.
Ketua Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Badaruddin mengungkapkan, pada tahun 2025 lalu produsen benih melakukan pembibitan sebanyak 115 juta 2,7 juta batang kakao, 38 juta batang kopi dan 1.500 hektare (ha) kebun benih tebu.
Menurut Badaruddin, upaya penangkar tersebut merupakan jumlah penangkar terbesar sepanjang sejarah perkebunan yang melibatkan lebih dari 500 produsen, baik sebagai penyedia langsung ataupun sebagai mitra.
“Untuk penyediaan bibit kakao menyerap tenaga kerja sebanyak 5.720 pekerja, kopi sebanyak 1.115 pekerja, kelapa 866 orang pekerja. Dengan asumsi biaya harian Rp. 100.000 maka dalam satu bulan saja dana yang beredar di desa sebanyak Rp 23,3 milyar,” jelas Badaruddin.
Hal tersebut juga menjadi kabar baik bagi penangkar, yang sempat mengalami keterpurukan selama masa COVID dan belum pulih hingga saat ini.
Penangkar kopi asal Jember Agus Nirmala mengaku dirinya tengah menangkarkan kopi sebanyak 4 juta batang di Desa Silo, Jember. Di daerah ini sebelumnya masyarakatnya biasa merantau ke Bali sebagai tenaga serabutan dan pembantu rumah tangga.
Namun, kata Agus, dengan adanya penyediaan pembibitan untuk mendukung program hilirisasi perkebunan berdampak kepada aktivitas masyarakat yang kembali ke desa untuk bekerja di pembibitan.
Sementara itu pemilik CV Langbuana Wawan Setiyawan sebagai pelaksana pembangunan kebun benih datar tebu di daerah Blitar, Jawa Timur seluas 250 ha mengatakan, pihaknya mempekerjaan paling tidak 10 – 15 orang per ha, dengan biaya tanaman rata-rata sekitar 4 juta per ha ata setara Rp. 1 Milyar selama 1 bulan.
“Program ini telah memberikan angin segera bagi penangkar yang notabene sebagian besar adalah UMKM. Serta menciptakan lapangan pekerjaan di pedesaan serta perputaran uang,” ujar Wawan.
Tentu, menutur Wawan, penyediaan bibit ini harus berakhir hingga penanaman di kebun masyarakat, sehingga berdampak pada peningkatan produksi tanaman kopi, kakao dan tebu, serta mendukung mendukung pengembangan industry dan hilirisasi perkebunan. (ibn)




