PERKEBUNAN INDONESIA – Empat emiten perusahaan perkebunan kelapa sawit Indonesia terdepak dari indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan hasil rebalancing, Selasa (12/5/2026) keempat emiten sawit yang terhapus dalam indeks global itu masing-masing PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Sawit Sumbetmas Sarana Tbk (SSMS), PT Triputra Agro Persada Tbk (TPAG), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).
Dalam hasil tinjauan berkala pada Mei 2026, ada 19 emiten Indonesia yang terhapus dalam indeks global MSCI. Emiten sektor perkebunan sawit yang paling banyak terdepak.
Hasil review ini mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026 atau akan berlaku pada 1 Juni 2026 mendatang.
Rebalancing ini mencakup penyesuaian bobot pada berbagai kategori indeks di seluruh dunia, termasuk perombakan komposisi pada bursa saham Indonesia.
Perubahan ini secara historis menjadi katalis yang memengaruhi arah pergerakan dana asing di pasar domestik, sehingga selalu mendapat perhatian khusus dari para pelaku pasar modal.
Pada pembukaan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (13/5/2026) sesi pagi ini, saham AALI dibuka turun di harga Rp 7.750 per lot.
Pada hari Selasa (12/5/2026) emiten perkebunan sawit ini ditutup Rp 8.075. Sedangkan pada perdagangan seminggu lalu pada Selasa (5/5/2026) harga saham AALI Rp 8.200.
Dalam laporan triwulan 2026, AALI mampu membukukan laba bersih senilai Rp1,5 triliun atau naik 28,2 persen year-on-year (yoy).
Sementara untuk saham TAPG pada perdagangan Rabu pagi ini dibuka Rp 1.890. Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (12/5/2026) ditutup Rp 1.890 per lotnya. Sedangkan pada Selasa (5/5/2026) tercatat Rp 2.000 per lotnya.
Untuk saham SSMS pada perdagangan Rabu pagi ini dibuka Rp 1.300. Sementara pada perdagangan sebelumnya, Selasa (12/5/2026) ditutup Rp 1.330 per lotnya. Sedangkan pada Selasa (5/5/2026) tercatat Rp 1.400 per lotnya.
Saham DSNG pada perdagangan Rabu pagi ini dibuka Rp 1.630. Pada perdagangan hari sebelumnya, Selasa (12/5/2026) ditutup Rp 1.680 per lotnya. Sedangkan pada Selasa (5/5/2026) tercatat Rp 1.715 per lotnya.
Dalam laporan triwulan I, DSNG menyebut pertumbuhan kinerja pada kuartal I-2026, mencapai Rp 2,9 triliun atau tumbuh 8 persen YoY dan laba dibukukan sebesar Rp 421 miliar, tumbuh 15 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). (yer)




