PERKEBUNAN INDONESIA – Ekspor kopi Arabika Bajawa sebanyak 15 ton ke Bangkok, Thailand, tembus senilai Rp1,56 miliar. Hal ini menegaskan posisi Indonesia sebagai produsen kopi unggulan dunia.
“Keberhasilan ekspor kopi Bajawa ini diharapkan menjadi model replikasi bagi komoditas pertanian lainnya,” ungkap Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan), Abdul Roni Angkat, dikutip Rabu (29/10/2025)
Roni mengatakan, kolaborasi antara perguruan tinggi, swasta, dan pemerintah membuktikan bahwa dengan dukungan teknologi, kelembagaan, dan pemberdayaan yang tepat, petani desa mampu bersaing di pasar globa.
“Kita ingin petani kita menjadi pemain global, bukan hanya penonton,” tegas Roni.
Menurut Roni, model kemitraan ekspor kopi Bajawa mendukung strategi Kementerian Pertanian dalam memperkuat korporatisasi petani melalui koperasi dan badan usaha milik petani.
Dengan kelembagaan yang kuat, tambah Roni, petani memiliki posisi tawar dan akses pembiayaan lebih baik, sehingga mampu mencapai ekspor berkelanjutan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi kolaborasi IPB University dan Astra dalam mengantarkan petani lokal menembus pasar dunia.
Menurut Amran, ekspor kopi arabika Bajawa ini merupakan bukti transformasi pertanian Indonesia berbasis hilirisasi dan pemberdayaan petani agar menjadi pelaku utama dalam rantai nilai global.
Program ekspor kopi arabika Bajawa ini merupakan hasil kolaborasi IPB University melalui Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim dan PT Astra International Tbk dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA) dan One Village One CEO (OVOC).
Seluruh proses bisnis dijalankan oleh anak muda desa, dengan pembinaan terhadap lebih dari 250 petani di enam desa penghasil kopi Bajawa. Ekspor dilakukan dari Desa Mukuvoka, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Para petani dan pengusaha muda dari PT Rumah Kopi Bajawa dan Koperasi Produsen Kopi Ekoheto Sejahtera mengungkapkan bahwa kopi Bajawa dikenal sebagai salah satu kopi terbaik Indonesia, dengan cita rasa khas pear, cokelat, dan nuansa fruity seperti jeruk dan apel.
Mereka menekankan pentingnya regenerasi petani dan pendampingan multipihak untuk menjaga keberlanjutan industri kopi di Flores.
Pemerintah Kabupaten Ngada menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap kolaborasi multipihak ini. Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri.
“Terima kasih kepada IPB, Astra, dan Kementerian Desa yang telah membawa kopi Bajawa mendunia,” ungkap Bernadinus Dhey Ngebu, Wakil Bupati Ngada. (sat)




