PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan berbagai produk berbasis karet mulai dari sektor darat, laut maupun udara. Diharapkan teknologi material berbasis karet alam menghasilkan berbagai produk bernilai tambah.
Perekayasa Ahli Madya dari Kelompok Riset Karet Teknologi Tinggi, Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN, Ade Sholeh Hidayat, mengatakan pengembangan teknologi tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan potensi karet alam Indonesia yang merupakan salah satu komoditas unggulan.
“Kami dari BRIN ingin ikut serta bagaimana meningkatkan nilai tambah dari produk karet alam tersebut melalui pengkajian, penelitian, penerapan, dan pengembangan menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah yang sangat tinggi,” ujar Ade dikutip dari lama brin.go.id, Senin (10/8/2026).
Dalam penerapannya, kata Ade, BRIN berkolaborasi dengan industri dalam negeri untuk mengembangkan hasil riset dan prototipe menjadi produk.
“Kolaborasi juga dilakukan dengan perguruan tinggi serta kementerian dan lembaga terkait, termasuk dalam pengembangan standar produk bersama Badan Standardisasi Nasional (BSN),” jelas Ade.
Melalui pengembangan teknologi material karet, BRIN melakukan riset dari tahap pengolahan bahan baku hingga pembuatan prototipe dan penerapan produk melalui kolaborasi dengan industri.
“Pengembangan tersebut diarahkan untuk menghasilkan berbagai produk berbasis karet yang dapat dimanfaatkan pada sektor transportasi, maritim, konstruksi, kelistrikan, pertahanan, dan kebutuhan masyarakat,” kata Ade.
Ade menyebutkan, produk berbasis karet sektor transportasi kereta, mulai dari rail pad, bantalan kereta, mounting, shock breaker, serta komponen bogie.
Di sektor maritim, BRIN mengembangkan fender (bantalan atau peredam benturan yang dipasang di dermaga atau lambung kapal), pneumatic fender, dan rubber airbag.
Salah satu produk ialah rubber airbag telah dikomersialisasikan melalui kerja sama BRIN dengan industri dalam negeri sebagai produk substitusi impor.
Ade menuturkan, pengembangan material karet diawali dengan menentukan persyaratan teknis (requirement) sesuai fungsi produk. Setelah itu, peneliti menyusun design formulation untuk menentukan jenis dan komposisi bahan yang diperlukan.
“Desain formulasi sebenarnya penentu bagaimana produk itu akan nanti dibuat,” jelas Ade.
Dalam proses formulasi, karet dapat dicampurkan dengan sejumlah bahan tambahan seperti filler, aktivator, akselerator, antioksidan, antiozonant, dan pewarna sesuai karakteristik produk yang diinginkan.
Material kemudian melalui proses pencampuran dengan mempertimbangkan suhu, waktu, dan urutan penambahan bahan, sebelum menjalani proses vulkanisasi.
Setelah tervulkanisasi, material diuji untuk memastikan karakteristiknya sesuai dengan persyaratan teknis. Pengujian meliputi kekuatan tarik, ketahanan sobek, elastisitas, kekerasan, compression set, dan ketahanan abrasi.
Salah satu pengembangan yang menunjukkan penerapan teknologi material karet pada kebutuhan transportasi udara adalah Pengembangan Formulasi Kompon Karet dan Proses Sertifikasi Prototipe Retread Ban Pesawat Twin Otter/N-219.
Riset tersebut mencakup pengembangan formulasi kompon karet, pembuatan prototipe retread ban pesawat Twin Otter/N-219, serta pengujian dinamik sebagai bagian dari fase pengembangan. Formulasi dan metode pembuatan kompon tapak ban pesawat berbasis karet alam tersebut juga telah memperoleh paten pada 2024.
Aplikasi lainnya dalam penerapan teknologi tersebut dilakukan dalam pengembangan sepatu. Produk ini dirancang dengan karakteristik murah, kuat, fleksibel, memiliki daya tahan tinggi, tidak licin, dan nyaman digunakan.
Pengembangan sepatu tersebut menjadi salah satu implementasi teknologi material karet untuk mendukung kebutuhan anak-anak dalam program Sekolah Rakyat.
Pengembangan dilakukan melalui riset dan pengembangan material yang mencakup formulasi, pencampuran, vulkanisasi, pengujian karakteristik, hingga pembuatan prototipe sebelum diterapkan melalui kolaborasi dengan industri.
Indonesia menghasilkan sekitar 3,6 juta ton karet per tahun. Potensi tersebut didorong untuk tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi. (har)




