PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan biopestisida berbasis bahan alami dari minyak atsiri untuk mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Peneliti Pusat Riset Perkebunan BRIN, Riki Warman, mengembangkan biopestisida organik berbahan kombinasi tiga minyak atsiri, yaitu serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus.
“Ketiganya memiliki potensi sebagai biopestisida alami untuk mengendalikan OPT melalui mekanisme yang lebih ramah lingkungan serta aman bagi rantai pangan,” ungkap Riki dalam sebuah webinar EstCorps Corner #30, dikutip Kamis (20/8/2026).
Riki menjelaskan bahwa gabungan tiga minyak atsiri tersebut mampu menghambat pertumbuhan cendawan patogen penyebab penyakit antraknosa pada tanaman cabai.
“Campuran minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus mampu menghambat pertumbuhan cendawan patogen penyebab penyakit antraknosa pada cabai,” jelas Riki.
Namun, kata Riki, pemanfaatan minyak atsiri sebagai biopestisida masih menghadapi sejumlah kendala teknis sehingga efektivitasnya dapat menurun ketika diaplikasikan di lapangan.
Riki menyebut kendala teknis itu antara lain minyak atsiri mudah menguap, tidak tahan terhadap paparan sinar ultraviolet dan air hujan, memiliki kelarutan rendah dalam air, serta sulit dikontrol dosisnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, BRIN mengembangkan teknologi nanoenkapsulasi. Teknologi ini digunakan untuk melindungi senyawa aktif minyak atsiri, memperlambat pelepasannya, sekaligus meningkatkan stabilitas dan efektivitas formulasi.
“Melalui teknologi nanoenkapsulasi, efisiensi pelepasan lambat (slow-release) minyak atsiri dapat dioptimalkan sehingga daya simpan dan efektivitas formulasi biopestisida meningkat,” ungkap Riki.
Riki menjelaskan, formulasi nanoemulsi konsorsium minyak atsiri dikembangkan menggunakan metode nanoemulsifikasi inversi fase.
Tahap awal dilakukan dengan mencampurkan minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus dengan rasio 5:1:2, bersama surfaktan dan ko-surfaktan. Campuran kemudian diaduk pada kecepatan 700–1.000 rpm hingga homogen.
Pada tahap berikutnya, kata Riki, air yang telah ditambahkan kitosan 1 persen dimasukkan ke dalam campuran dan diaduk dengan kecepatan yang sama selama 60 menit. Nanoemulsi yang dihasilkan selanjutnya dicampurkan dengan matriks nanokapsul berupa maltodekstrin.
Campuran tersebut kemudian diaduk dengan kecepatan 12.000 rpm selama 15 menit dan dikeringkan menggunakan spray drying hingga menghasilkan serbuk nanoenkapsulasi konsorsium minyak atsiri.
Hasil pengujian di laboratorium menunjukkan bahwa serbuk enkapsulasi campuran minyak atsiri mampu menghambat pertumbuhan patogen Colletotrichum scovillae dan C. truncatum, yang merupakan penyebab penyakit antraknosa pada cabai.
Formulasi dengan rasio nanoemulsi terhadap matriks 5:1 dan 6:1 menunjukkan karakteristik fisik yang optimal. Ukuran partikelnya berada pada kisaran rata-rata 209,6-363,0 nanometer dengan stabilitas koloid yang tinggi, ditunjukkan oleh nilai zeta potensial sebesar -35,0 mV.
“Nanoenkapsulasi yang kita buat ini menunjukkan aktivitas penghambatan yang signifikan hingga hari ke-14 yang stabil,” terang Riki.
Meskipun efikasi formulasi ini masih di bawah fungisida kimia, Riki berharap nanoenkapsulasi ini dapat digunakan untuk mengendalikan patogen di lapangan untuk pertanian berkelanjutan ke depannya. (far)




