PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kabupaten Magelang mendorong penguatan daya saing kopi yang difokuskan pada perbaikan budidaya, pengendalian mutu pascapanen, dan pengembangan produk bernilai tambah.
Penguatan daya saing kopi ini juga didorong melalui kegiatan BRIN Goes to Society pada 10–11 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pendampingan UMKM Berbasis Iptek (PUMI) yang bertujuan meningkatkan kapasitas petani dan pelaku UMKM kopi melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan UMKM BRIN, Driszal Fryantoni, mengatakan pengembangan kopi merupakan salah satu contoh hilirisasi hasil riset yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Inovasi tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui pengolahan, diversifikasi produk, dan penguatan daya saing usaha,” ungkap Drisal seperti dikutip Sabtu (13/6/2026).
Lebih lanjut Driszal mengatakan, riset juga harus hadir sebagai solusi yang mampu meningkatkan produktivitas, kualitas produk, nilai tambah usaha, dan kesejahteraan masyarakat.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kopi berbasis inovasi, BRIN menyerahkan bibit kopi unggul hasil riset kepada Pemerintah Kabupaten Magelang.
Pada aspek budidaya, para peneliti BRIN menekankan pentingnya penerapan Good Agricultural Practices (GAP) untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi.
Dani dan Handi Supriadi, peneliti Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, menjelaskan bahwa peningkatan mutu kopi perlu didukung pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi lahan, pengelolaan kebun yang tepat, teknik pemangkasan, serta pengendalian penyakit karat daun yang masih menjadi tantangan di sejumlah sentra produksi.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Proses Pangan BRIN, Yeyen Prestyaning Wanita, menekankan mutu kopi spesialti sangat ditentukan pada kualitas buah yang dipanen.
Karena itu, kata Yeyen, petani didorong meninggalkan praktik “petik pelangi” dan menerapkan pemetikan buah merah secara selektif untuk menghasilkan biji kopi yang lebih seragam dan memenuhi standar pasar.
Selain peningkatan kualitas bahan baku, BRIN juga memperkenalkan peluang hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kopi.
Nendyo Adhi Wibowo, peneliti Pusat Riset Teknologi Proses Pangan BRIN, memperkenalkan berbagai inovasi pengolahan kopi, termasuk pemanfaatan kulit buah kopi (cascara) yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Melalui teknologi pengolahan yang tepat, cascara dapat diolah menjadi produk pangan bernilai tambah, seperti cascara tea, kopi herbal, dan minuman fermentasi,” ungkap Nendyo.
Salah satunya adalah Kopi Binturong yang berbeda dengan Kopi Luwak. “Binturong melepehkan biji kopi dengan cara berbeda dari luwak, meskipun keduanya menghasilkan biji kopi yang sama-sama telah mengalami proses fermentasi,” ungkap Nendyo.
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menyampaikan bahwa kopi telah menjadi bagian penting dari perekonomian daerah sejak lama.
Oleh karena itu, lanjut Bupati, pengembangannya perlu didukung dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi agar produktivitas serta kesejahteraan petani dapat terus meningkat.
“Investasi pada riset mungkin belum menjadi program yang paling populer, namun hasil riset dan inovasi dapat menghasilkan dampak nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Bupati.
Pendampingan kemudian dilanjutkan melalui kunjungan ke sentra kopi arabika dan robusta di Kabupaten Magelang.
Dalam kegiatan tersebut, para peneliti berdiskusi langsung dengan petani mengenai berbagai tantangan budidaya serta memberikan rekomendasi berbasis hasil riset terkini guna mempercepat adopsi teknologi di tingkat lapangan dan memperkuat ekosistem kopi berbasis inovasi. (far)




