JAKARTA, perkebunanindonesia.com – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendanai riset eksplorasi benih sawit ke Tanzania.
“Riset ini dalam upaya penyediaan material genetik sebagai sumber keragaman baru untuk perakitan varietas kelapa sawit dengan karakter yang lebih unggul,” ujar Ketua Tim Periset Eksplorasi SDG Tanzania Edy Suprianto.
Riset eksplorasi benih sawit ini melibatkan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit Indonesia, PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), dan Perhimpunan Ilmu Pemuliaan dan Perbenihan Sawit Indonesia (PIPPSI)
Edy mengatakan, Tanzania dipilih sebagai negara tujuan eksplorasi karena merupakan salah satu center of origins kelapa sawit.
Program riset eksplorasi benih sawit ke Tanzania dilakukan selama dua tahun dengan tahapan kegiatan berupa: Pra Eksplorasi, Eksplorasi, dan Pasca Eksplorasi.
Kegiatan Pra Eksplorasi diinisiasi GAPK dan Konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit Indonesia melalui negosiasi dengan Pemerintah Tanzania.
Kesepakatan antara Tanzania Agricultural Research Institute (TARI) dengan GAPKI telah dituangkan dalam Agreement on Oil Palm Germplasm Collaboration.
Kegiatan Eksplorasi (joint exploration) dilaksanakan pada Maret hingga April 2024 melibatkan Tim Peneliti dari Indonesia,TARI dan Tanzania Plant Health and Pesticide Authority (TPHPA).
Eksplorasi dilakukan di 10 wilayah meliputi lima wilayah pesisir pantai (coastal) dan dataran tinggi (highland).
“Tanaman kelapa sawit yang dikoleksi tumbuh pada ketinggian yang cukup berbeda, mulai dari 3 meter di atas permukaan laut (mdpl) di Tanga dan 1142 mdpl di Tabora,” tutur Edy.
Area koleksi berada diantara 40 LS (Kigoma) sampai 110 LS (Ruvuma) dan 290 BT (Kigoma) dan 400 BT (Mtwara).
Edy mengungkapkan Tim Eksplorasi telah berhasil mengumpulkan tandan dari 102 aksesi kelapa sawit.
“Dari 102 aksesi tersebut, terdapat 84 aksesi kelapa sawit bertipe Dura dan 18 aksesi bertipe Tenera,” jelas Edy
Keduanya dengan tipe warna buah nigrescens dan virescens, karakter vegetatif, tandan, dan buah kelapa sawit masing-masing aksesi menunjukkan keragaman yang sangat tinggi.
Melalui proses pengolahan tandan kelapa sawit secara manual, telah diperoleh 83.004 butir benih.
Benih hasil eksplorasi kemudian diproses di Lembaga CABI – United Kingdom untuk dilakukan serangkaian perlakuan dan pengujian sesuai persyaratan karantina yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia dan berfungsi sebagai intermediate quarantine.
Saat ini benih dalam proses pengolahan menjadi kecambah di PT Socfindo, dan akan menjalani rangkaian pengujian melalui kegiatan pengasingan dan pengamatan selama proses pembibitan di bawah supervisi Badan Karantina Indonesia. (far)




