a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Apical Hidupkan Kembali Perkebunan Kakao Lewat Programnya di Kutai Timur

Apical Hidupkan Kembali Perkebunan Kakao Lewat Programnya di Kutai Timur

22 September 2025
1
Share on FacebookShare on Twitter

Perkebunanindonesia.com – Program Sustainable Living Village (SLV) yang dijalankan Apical dan didukung eksekusinya oleh Earthworm Foundation sejak 2024, mulai menunjukkan dampak nyata bagi warga di Desa Tepian Makmur, Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

“Melalui program budidaya kakao SLV Kutai Timur, kami ingin menghidupkan kembali potensi kakao yang dulu pernah menjadi tumpuan petani,” ujar Manager CSR Apical Agus Wiastono, Senin (22/9/2025).

Menurut Agus, pemanfaatan lahan tidur diharapkan tidak hanya menciptakan peluang usaha baru, tetapi juga menekan kebutuhan pembukaan hutan untuk perkebunan sawit.

Melalui inisiatif alternatif mata pencaharian berupa budidaya kakao dalam skala demplot, program ini berhasil mendorong minat petani untuk menanam kakao di lahan mereka.

Sebelum sawit berkembang di desa ini, kakao pernah menjadi komoditas andalan petani. Namun sejak sekitar 2008, kebun kakao berangsur ditinggalkan.

Program SLV kini berupaya menghidupkan kembali potensi tersebut dengan mengajak warga menanam kakao di lahan tidur, yaitu lahan pertanian yang tidak dimanfaatkan selama lebih dari dua tahun tetapi masih bisa diolah kembali.

 Pemanfaatan lahan ini diharapkan membuka peluang usaha baru sekaligus membantu mengurangi risiko kebakaran saat musim kemarau.

Sejalan dengan upaya tersebut, Earthworm Foundation menekankan pentingnya memanfaatkan kembali kakao sebagai sumber pendapatan desa.

“Tidak ada kata terlambat untuk menanam kakao. Ketika kebun sawit memasuki masa replanting, pendapatan petani biasanya berkurang, dan kakao dapat menjadi penghasilan tambahan yang membantu menjaga kestabilan ekonomi keluarga,” kata Operational Manager Earthworm Foundation Bahrun.

Untuk memperkuat penerapan praktik budidaya kakao berkelanjutan, Apical mengadakan pelatihan pada 11–12 September 2025. Narasumber dari Kelompok Tani ICS Pesete Tawai di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam budidaya kakao.

Pelatihan tersebut diikuti sekitar 41 peserta yang terdiri atas anggota Kelompok Tani Hutan Wana Makmur, perwakilan Badan Permusyawaratan Desa, penyuluh pertanian lapangan, Kepala Desa Tepian Makmur, calon petani kakao, serta mitra pemasok Apical yakni PT Kalimantan Agro Nusantara (PT KAN) dan PT Kutai Balian Nauli (PT KBN).

Berbekal ilmu yang dibagikan, para petani diharapkan terdorong untuk memulai atau kembali menanam kakao di lahan mereka.

 Peluang pasar juga semakin menarik, dengan harga biji kakao kering non-fermentasi yang berkisar antara Rp100.000 hingga Rp120.000 per kilogram.

Sedangkan kakao fermentasi dapat mencapai Rp120.000 hingga Rp130.000 per kilogram. Sebagai perbandingan, harga kakao kering non-fermentasi di Berau saat ini tercatat sekitar Rp125.000 per kilogram.

Ambrosius Hoban, petani kakao dari Desa Tepian Makmur, menilai inisiatif ini sebagai peluang baru bagi keluarganya.

Ambrosius menuturkan, dirinya memiliki kebun sawit sekitar empat hektar dengan usia tanaman 13 tahun dan produksi rata-rata 600 kilogram per hektar.

“Dengan memanfaatkan lahan kosong untuk menanam kakao, saya berharap bisa mendapatkan alternative income yang menambah penghasilan keluarga selain dari sawit,” ujar Ambrosius.

Sejalan dengan filosofi 5C Apical—Good for Community, Country, Climate, Customer, dan Company—program ini menegaskan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan.

Apical berupaya memastikan dampak positif SLV dapat dirasakan lebih luas, membantu petani memperoleh alternative income yang berkelanjutan dan peduli lingkungan. (fad)

Tags: ApicalKakaoKutai TimurProgram Sustainable Living Village (SLV)

Related Posts

Pengembangan Perkebunan di Lahan Suboptimal Jadi Peluang Strategis

Kemenperin Perkuat Industri Kakao Siapkan 100 Cocoa Doctor

20 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing...

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

16 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Teh Java Preanger membuka peluang memperluas pasar internasional, khusus ke benua Amerika. Permintaan teh tersebut...

Comments 1

  1. Ellie1704 says:
    1 tahun ago

    https://shorturl.fm/fMkUE

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Asian Agri dan Apical Optimis Capai Target Keberlanjutan 2030

Asian Agri dan Apical Optimis Capai Target Keberlanjutan 2030

28 April 2025
Bapanas Satgas Perketat Awasi Peredaran Gula Rafinasi

Bapanas Satgas Perketat Awasi Peredaran Gula Rafinasi

7 Juli 2025
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.