JAKARTA, perkebunanindonesia.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong hilirisasi sawit melalui langkah strategis dengan pengembangan produk olahan bernilai tambah tinggi, seperti pangan olahan, kosmetik, bioenergi, dan produk turunan lainnya. Salah satunya cokelat.
Upaya hilirisasi ini mendapat dukungan dari berbagai daerah penghasil kelapa sawit, termasuk Sulawesi Selatan (Sulsel) yang memiliki potensi besar dalam pengembangan industri kelapa sawit.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Andi Rizal menjelaskan, salah satu wujud nyata komitmen tersebut, unit pelaksana teknis (UPT) Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Hasil Perkebunan, Mineral Logam, dan Maritim (BBSPJIHPMM) Makassar telah melaksanakan lokakarya peningkatan kapasitas UMKM.
“Melalui inovasi pembuatan cokelat berbasis minyak sawit, diharapkan dapat menciptakan nilai tambah dan membuka peluang pasar baru bagi masyarakat dan UMKM di daerah,” ungkap Andi dalam keterangannya, Sabtu (3/5/2025).
Kepala BBSPJIHPMM Makassar, Shinta Virdhian mengatakan, pihaknya fokus memberikan pelatihan dan pengembangan inovasi industri hilir berbasis sawit dalam pembuatan cokelat.
“Kami berkomitmen untuk terus memberikan dukungan teknologi dan pelatihan kepada masyarakat dan UMKM agar mampu berdaya saing di pasar global,” ujar Shinta Virdhian.
Workshop ini untuk memberikan pengetahuan teknis dan keterampilan praktis dalam pemanfaatan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan cokelat yang bernilai tambah dan berkualitas tinggi, serta memberikan sertifikat kompetensi bagi peserta sebagai bentuk pengakuan atas keterampilan mereka.
“Kegiatan ini mencerminkan bentuk sinergi antara BBSPJIHPMM sebagai pelaksana teknis, BPDP sebagai penyedia dukungan dana pengembangan industri sawit, dan APKASINDO Perjuangan yang aktif dalam pemberdayaan petani dan komunitas sawit di seluruh Indonesia,” tutur Shinta.
Senior Analis Divisi UKMK Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPPKS) Anwar Saddat berharap, masyarakat dan pelaku UMKM bisa memperoleh manfaat langsung dana pengembangan industri sawit melalui pelatihan yang bisa menciptakan produk inovatif dari sawit serta membuka peluang usaha yang berkelanjutan.
Sementara itu, Sekjen DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Perjuangan, A. Sulaiman H Andi Loeloe mengatakan, pembuatan cokelat dari minyak kelapa sawit adalah solusi kreatif untuk mengetahui manfaat lain dari turunan sawit sehingga dapat mendorong industri hilir dan meningkatkan nilai ekonomi sawit masyarakat.
Kemenperin meyakini pengembangan produk hilir sawit dapat membuka peluang ekonomi baru, memperluas pasar domestik dan ekspor, serta menciptakan lapangan kerja, khususnya di sektor industri kecil dan menengah (IKM).
Berdasarkan data Statistik Perkebunan tahun 2024 Badan Pusat Statistik (BPS) luas lahan perkebunan kelapa sawit di Sulsel mencapai 44.014 hektare (ha), terdiri dari Perkebunan Negara 17.527 ha, Perkebunan Swasta 841 ha, dan Perkebunan Rakyat 25.646 ha.
Sedangkan untuk produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) Sulsel sebesar 112.377 ton pada tahun 2024, yang meliputi 19.568 ton dari Perkebunan Negara, 3.931 ton Perkebunan Swasta, dan 88.878 ton Perkebunan Rakyat.
“Potensi besar yang dimiliki daerah seperti Sulawesi Selatan menjadi bagian penting dalam transformasi industri sawit yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Andi.
Menurut Andi, dengan luas lahan dan produksi sawit yang signifikan, Sulsel berpeluang menjadi pusat pertumbuhan industri hilir sawit di Kawasan Timur Indonesia. (fad)




