PERKEBUNAN INDONESIA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) mempercepat penguatan sektor pergulaan pada 2026 dengan target pengembangan seluas 54.897 hektare di 24 kabupaten sentra tebu.
Demikian diungkapkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri Panen Raya TNI Terintegrasi yang dipimpin Presiden RI Prabowo Subianto di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jumat (17/7/2026).
Khofifah mengatakan, pada 2026 Jawa Timur kembali mendapat kepercayaan menjalankan Program Bongkar Ratoon seluas 48.315 hektare dan Program Perluasan Areal Tebu seluas 6.582 hektare.
“Kepercayaan ini menjadi kehormatan sekaligus amanah bagi Jawa Timur untuk terus meningkatkan produktivitas, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan inovasi agar kontribusi kami terhadap ketahanan pangan nasional semakin besar,” ujar Khofifah dalam keterangan tertulisnya dikutip pada Minggu (19/7/2026).
Menurut Khofifah, pengembangan lahan tebu menjadi bagian penting dalam memperkuat kontribusi Jawa Timur terhadap target swasembada gula nasional. Apalagi, provinsi ini masih menjadi penyumbang produksi gula terbesar di Indonesia.
Saat ini, kata Khofifah, Jawa Timur menyumbang sekitar 51 persen produksi gula nasional. Sepanjang 2025, produksi gula kristal putih Jawa Timur mencapai sekitar 1,34 juta ton, menjadi capaian tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Menurut Khofifah, capaian tersebut semakin mempertegas posisi Jawa Timur sebagai penyangga utama industri gula nasional sekaligus daerah strategis dalam mendukung program swasembada gula.
Sementara itu, dalam Panen Raya TNI Terintegrasi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengungkapkan, TNI Angkatan Udara bersinergi dengan Gula Nusantara dan asosiasi petani mendampingi lahan seluas 236.048 hektare selama musim panen 2026.
Dari luas lahan tersebut diperkirakan menghasilkan 18,386 juta ton tebu atau setara 1,36 juta ton gula. Produksi tersebut memberikan kontribusi sekitar 45,05 persen terhadap target produksi gula nasional tahun 2026.
Secara khusus, Lanud Abdulrachman Saleh turut mengelola lahan tebu seluas 800,5 hektare yang siap dipanen dengan estimasi produksi mencapai 72.045 ton.
Selain menghasilkan gula, hilirisasi tebu juga dinilai memberikan nilai tambah ekonomi melalui produk turunan seperti molase, bioetanol untuk kebutuhan industri maupun farmasi, pupuk organik, serta berbagai produk lainnya.
“Hilirisasi tebu turut menghasilkan molase, bioetanol industri maupun farmasi, pupuk organik, dan produk turunan lainnya yang meningkatkan nilai bagi perekonomian nasional,” kata Agus. (gar)




