PERKEBUNAN INDONESIA – Pencampuran limbah teh dengan teh asli berpotensi merusak tata niaga teh. Bahkan praktek ini dinilai sebagai pemalsuan dan penipuan
“Seandainya benar-benar terbukti limbah tersebut dicampur dengan teh yang beneran, maka ini jelas merupakan sebuah penipuan,” tegas Pakar Teh Nasional Dr. Dadan Rohdiana kepada perkebunanindonesia.com, Kamis (4/6/2026).
Dadan mengatakan, praktek pencampuan limbah teh ini juga berpotensi mengganggu dan merusak tata niaga serta kesehatan manusia. Perlu dilakukan indentifikasi terhadap teh, terutama teh yang beredar dipasaran.
Menurut Dadan, angka 33.700 ton pertahun limbah teh yang disampaikan Dewan Teh Indonesia (DTI) bukan angka yang kecil, sungguh sangat besar.
Baca juga : Dewan Teh Dukung Kewajiban Sertifikasi Halal Termasuk Limbah Teh
Lebih lanjut Dadan menjelaskan, keamanan pangan merupakan persyaratan yang sangat penting untuk melindungi kesehatan manusia.
“Namun dalam perjalannya, keamanan pangan kerap kali dihadapkan pada permasalah yang sangat serius, yaitu penipuan dan pemalsuan pangan,” ujar Dadan yang juga Dosen di Program Studi Sains Pangan (SPSP) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STFI) Bandung.
Menurut Dadan, penipuan dan pemalsuan pangan telah menjadi permasalahan yang terus menerus mempengaruhi sistem rantai pasok pangan.
“Kondisi ini menjadi semakin intensif seiring dengan pertumbuhan pasar pangan global. Tahapan proses yang panjang dan lama berpeluangan menciptakan peluang penipuan dan pemalsuan pangan,” jelas Dadan.
Tingkat penipuan dan pemalsuan pangan berdampak pada nilai rantai pasok pangan dunia sampai pada tingkat ketidakpastian keaslian produk yang menyebabkan menurunnya kepercayaan konsumen secara signifikan.
Dadan mengatakan, penipuan dan pemalsuan pangan ini dilakukan secara sengaja dengan cara mengganti atau memberikan informasi yang tidak benar dalam kemasan.
Menurut Dadan, motif ekonomi dengan maksud mengambil keuntungan menjadi alasan utama terjadinya penipuan atau pemalsuan pangan.
“Biasanya pelaku penipuan dan pemalsuan mengganti produk yang mahal dengan produk yang murah,” kata Dadan.
Mengingat teh telah menjadi minuman terpopuler kedua setelah air, popularitasnya tersebut menempatkanya menjadi salah satu produk pangan yang rentan terhadap penipuan dan pemalsuan.
“Penipuan ini termasuk praktek mencapurkan teh beneran dengan jenis tanaman lain atau dengan kualitas teh yang lebih rendah untuk meningkatkan keuntungan,” kata Dadan.
Dadan mengatakan, banyak hasil penelitian mengungkapkan, teh dikenal sebagai minuman tradisional yang mampu meningkatkan status kesehatan karena mengandung senyawa fitokimia yang bersifat antioksidan, anti inflamasi, anti kanker dan sejumlah aktivitas farmakologi lainnya. (yer)




