a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Pemerintah Berharap Tak Impor Gula Tahun Ini

Pemerintah Sebut Komoditas Perkebunan Harus Naik Kelas

25 April 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – Pemerintah menyebut hasil komoditas perkebunan harus naik kelas yang tidak hanya sebagai bahan mentah, namun diolah menjadi produk turuan bernilai tinggi, termasuk bioenergi.

“Hasil perkebunan harus naik kelas. Tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi, termasuk bioenergi,” ungkap Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman dalam keterangannya, dikutip Sabtu (25/4/2026).

Hal tersebut, kata Mentan, salah satu percepatan hilirisasi sektor perkebunan sebagai strategi besar untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus mengangkat nilai tambah komoditas domestik di tengah tekanan global dan ketergantungan pada energi fosil.

“Ini bagian dari upaya kita memperkuat kemandirian dan kedaulatan energi nasional, sebagaimana arahan Bapak Presiden,” ujar Mentan Amran

Langkah ini menempatkan subsektor perkebunan bukan lagi sekadar penghasil bahan mentah, melainkan sebagai fondasi penting dalam rantai pasok energi baru berbasis sumber daya lokal.

Amran menegaskan bahwa paradigma pembangunan perkebunan harus berubah menuju pengolahan bernilai tambah tinggi.

Sejumlah komoditas strategis seperti kelapa sawit, tebu, jagung, dan singkong kini diarahkan menjadi tulang punggung pengembangan biofuel, baik biodiesel maupun bioetanol.

Pemanfaatan komoditas dalam negeri dinilai krusial untuk memperkuat bauran energi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap energi fosil.

Di sisi hulu, penguatan terus dilakukan melalui peningkatan produksi dan produktivitas, termasuk percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, serta pengawasan perizinan dan sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO.

Untuk komoditas tebu, pemerintah juga mendorong percepatan swasembada gula sekaligus pemenuhan kebutuhan bioetanol melalui program bongkar ratoon dan perluasan areal tanam hingga 200.000 hektare secara nasional.

Selain itu, pembenahan data dan sistem informasi perkebunan menjadi prioritas guna memastikan perencanaan yang lebih presisi dan berkelanjutan dalam mendukung pasokan bahan baku industri bioenergi.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, menilai hilirisasi memberikan dampak luas bagi perekonomian nasional.

“Hilirisasi perkebunan akan menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri berbasis komoditas, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan pekebun. Ini menjadi kunci dalam mendorong transformasi ekonomi nasional,” ujar Ali Jamil.

Ali Jamil menambahkan, pengembangan komoditas ke depan tidak hanya difokuskan pada kebutuhan pangan dan industri konvensional, tetapi juga diarahkan sebagai sumber bahan baku energi terbarukan yang prospektif.

“Ke depan, sinergi lintas sektor akan terus diperkuat, baik dari sisi hulu, industri pengolahan, hingga kebijakan energi,” ujar Ali Jamil.

Menurut Ali Jamil, tujuannya memastikan kesinambungan pasokan bahan baku serta optimalisasi pengembangan industri bioenergi nasional, termasuk biodiesel dari kelapa sawit dan bioetanol dari tebu.

Dengan integrasi dari produksi hingga pengolahan dan pemanfaatan, hilirisasi perkebunan diharapkan menjadi fondasi strategis dalam memperkuat ketahanan energi dan pangan secara simultan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (sat)

 

Tags: BioenergiBioethanolISPOKomoditas perkebunanMentan Andi Amran SulaimansawitTebu

Related Posts

Pengembangan Perkebunan di Lahan Suboptimal Jadi Peluang Strategis

Kemenperin Perkuat Industri Kakao Siapkan 100 Cocoa Doctor

20 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing...

Kementan Kembangkan Kawasan Tebu Seluas 97.970 Hektare

Kementan Perkuat Langkah Lindungi Produktivitas Perkebunan

17 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kementerian Pertanian (Kementan) sigap menyiapkan mitigasi dampak cuaca terhadap komoditas perkebunan mengantisipasi potensi penurunan produktivitas...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Hilirisasi di Maluku Utara Fokus pada Kelapa

Hilirisasi di Maluku Utara Fokus pada Kelapa

29 Oktober 2025
Kemendag Ubah Aturan Spesifikasi Teknis Ekspor Karet Alam

BRIN Kembangkan Berbagai Produk Berbasis Karet

12 Agustus 2026
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.