PERKEBUNAN INDONESIA – Kopi Arabika asal Java PTPN IV PalmCo tembus pasar ekspor ke Inggirs dan Amerika Serikat. Sebanyak lebih dari 50 ton kopi Arabika asal Java Coffee Estate (JCE) di kawasan Ijen, Bondowoso, Jawa Timur menjadi catatan positif.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa mengungkapkan, lonjakan kinerja pemasaran ini merupakan indikator kuat kembalinya pamor Kopi Jawa di skena kopi global.
“Kinerja positif di awal 2026 ini menunjukkan hasil dari transformasi yang kami lakukan. Kami tidak lagi hanya mengejar volume penjualan, tetapi berfokus pada penciptaan ekosistem bisnis kopi yang bernilai tambah tinggi dan memiliki daya saing kompetitif di pasar global,” jelas Jatmiko dalam keterangannya dikutip Jumat (24/4/2026).
Penetrasi agresif ke negara-negara maju tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa standar kualitas kopi yang dikelola perusahaan di kawasan Ijen – Bondowoso mampu memenuhi ekspektasi ketat pasar specialty coffee internasional.
Lebih lanjut, Jatmiko menegaskan bahwa capaian JCE di kancah global ini sejalan dengan visi yang dibangun bersama pemerintah daerah. Keberhasilan ini turut mempertegas muruah ‘Bondowoso Republik Kopi’ di mata dunia.
“Ke depan, kami berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan jajaran Forkopimda Bondowoso,” ujar Jatmiko.
Jatmiko berharap, eksistensi PTPN tidak hanya membawa nama harum kopi lokal ke mancanegara, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menggerakkan roda ekonomi daerah.
Berdasarkan data yang dihimpun bahwa JCE awal tahun ini tercatat pengiriman biji kopi mentah (green bean) ke Inggris mendominasi dengan volume 36 ton yang bernilai lebih dari USD 280.000 (setara hampir mencapai Rp5 miliar).
Menyusul di belakangnya, ekspor ke Amerika Serikat mencapai 19,2 ton dengan nilai transaksi sebesar mencapai hingga USD 151.000. Secara total, nilai transaksi ekspor kopi ke dua negara tersebut melampaui angka Rp7 miliar.
PTPN IV melakukan pembenahan serius di sektor hulu (on-farm). Kunci utama untuk mendongkrak produktivitas dan menjaga keberlanjutan JCE saat ini adalah program peremajaan tanaman atau replanting.
Manajer Java Coffee Estate, Hastudy Yunarko menjelaskan, peremajaan lahan mutlak dilakukan secara terukur untuk menggantikan tanaman-tanaman tua yang masa produktifnya mulai menurun.
Penggantian ini sepenuhnya menggunakan bibit-bibit unggul yang telah tersertifikasi. “Ini adalah investasi strategis jangka panjang kami,” ujar Hastudy.
Menurut Hastudy, program replanting yang masif tidak hanya dirancang untuk melipatgandakan tonase panen per hektare di masa depan, tetapi juga untuk mengunci konsistensi kualitas dan cupping profile (karakter rasa) khas Arabika Ijen – Bondowoso yang selama ini diburu para roaster dari Eropa dan Amerika.
Lebih lanjut, Hastudy memaparkan bahwa tuntutan para buyers di negara maju saat ini tidak hanya berkutat pada rasa, melainkan juga kepatuhan terhadap Praktik Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices/GAP) dan ketertelusuran asal-usul produk (traceability).
Karena itu, langkah replanting di kebun JCE turut diimbangi dengan intensifikasi perawatan tanaman, manajemen pemupukan yang presisi, hingga modernisasi infrastruktur pasca-panen.
“Pengiriman lebih dari 55 ton ke UK dan USA ini ibarat langkah pembuka bagi kami di tahun 2026. Seiring dengan mulai berjalannya program replanting dan optimalisasi produksi kebun, kami sangat optimis JCE mampu memperluas jangkauan pasar ke negara-negara potensial lainnya pada kuartal-kuartal mendatang,” pungkas Hastudy. (har)




