a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Harga Referensi CPO Juli Menguat

GAPKI Catat Produksi , Konsumsi dan Ekspor Sawit Meningkat

21 April 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, produksi CPO bulan Februari 2026 mencapai 5.015 ribu ton, naik 4,96 persen dari bulan sebelumnya 4,778 ribu ton.

Produksi PKO bulan Februari juga naik menjadi 485 ribu ton dari 458 ribu ton di bulan Januari sehingga total produksi CPO+PKO Februari 2026 mencapai 5.500 ribu ton lebih besar 5,04 persen dari bulan sebelumnya 5.236 ribu ton.

“Secara year on year (YoY) sampai Februari, produksi CPO ditambah PKO 2026 naik menjadi 10.737 ribu ton atau 28,94 persen lebih tinggi dari produksi 2025 sebesar 8.327 ribu ton,” ungkap Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono dalam keterangan pers yang diterima perkebunanindonesia.com, Selasa (21/4/2026).

GAPKI juga mencatat, total konsumsi dalam negeri mengalami peningkatan 9,55 persen dari 2.104 ribu ton di bulan Januari menjadi 2.305 ribu ton pada bulan Februari 2026.

Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi pangan yang naik menjadi 986 ribu ton atau 16,55 persen dari bulan sebelumnya sebesar 846 ribu ton.

Untuk konsumsi biodiesel juga naik 7,12 persen menjadi 1.144 ribu ton dari 1.068 ribu ton pada bulan sebelumnya. Sedangkan konsumsi oleokimia turun minum 7,89 persen, menjadi 175 ribu ton dari 190 ribu ton pada bulan sebelumnya.

Secara YoY sampai Februari, konsumsi 2026 naik menjadi 4.409 ribu ton atau 12,96 persen lebih tinggi dari konsumsi 2025 sebesar 3.903 ribu ton.

Sedangkan untuk ekspor produk sawit pada bulan Februari 2026 naik menjadi 3.297 ribu ton atau 7,01 persen dari ekspor bulan Januari sebesar 3.081 ribu ton.

Peningkatan ekspor terjadi pada olahan minyak inti sawit yang menjadi 171 ribu ton dari 125 ribu ton pada bulan sebelumnya (+36,80%), pada CPO yang menjadi 395 ribu ton dari 332 ribu ton (+18,98%).

Sementara pada olahan minyak sawit juga naik menjadi 2.267 ribu ton dari 2.172 ribu ton (+4,37%) dan pada oleokimia yang menjadi 462 ribu ton dari 450 ribu ton pada bulan sebelumnya (+2,67%).

Secara YoY sampai Februari, ekspor 2026 naik menjadi 6.378 ribu ton atau 33,96 persen lebih tinggi dari ekspor 2025 sebesar 4.761 ribu ton.

Mukti menyebutkan, negara tujuannya yang mengalami peningkatan ekspor pada bulan Februari dibanding bulan sebelumnya yaitu untuk China (+152 ribu ton), Malaysia (+116 ribu ton), EU 27 (+78 ribu ton), India (+56 ribu ton), USA (+43 ribu ton), dan Middle East (+42 ribu ton).

Sedangkan penurunan ekspor terjadi untuk tujuan Pakistan (-136 ribu ton), Afrika (-68 ribu ton), Bangladesh (-40 ribu ton) dan Russia (-26 ribu ton).

Secara YoY Februari, peningkatan ekspor 2026 dari ekspor 2025 terjadi untuk tujuan China (+628 ribu ton), Malaysia (+336 ribu ton), EU 27 (+173 ribu ton), Russia (+150 ribu ton), Bangladesh (+57 ribu ton), India (+45 ribu ton), USA (+18 ribu ton), Middle East (9 ribu ton). Sementara penurunan ekspor terjadi untuk tujuan Pakistan (-15 ribu ton) dan Afrika (-14 ribu ton).

Nilai ekspor produk sawit bulan Februari mengalami peningkatan dari US$ 3,36 miliar di bulan Januari menjadi US$ 3,69 miliar pada Februari atau meningkat sebesar 9,70 persen.

“Secara YoY sampai Februari, nilai ekspor 2026 naik menjadi 7,05 miliar atau 28,88 persen lebih tinggi dari tahun 2025 sebesar US$ 5,47 miliar,” ujar Mukti.

Menurut Mukti, peningkatan nilai ekspor yang terjadi selain karena meningkatnya volume ekspor juga karena harga rata-rata Januari- Februari 2026 sebesar US$ 1.306/ton Cif Rotterdam yang lebih tinggi dari rata-rata Januari-Februari 2025 sebesar US$ 1.218/ton Cif Roterdam.

Dengan stok awal tahun 2026 sebesar 2.068 ribu ton, produksi Jan-Feb CPO+PKO 10.737 ribu ton, konsumsi Jan-Feb 4.409 ribu ton dan ekspor Jan-Feb 6.378 ribu ton, maka stok di akhir Februari 2026 menjadi 2.026 ribu ton lebih kecil dari 2.250 ribu ton pada stok di akhir Februari 2025. (yog)

Tags: BiodiselcpoGapkiolekimiaPKOProduksi Sawit

Related Posts

Pengembangan Perkebunan di Lahan Suboptimal Jadi Peluang Strategis

Kemenperin Perkuat Industri Kakao Siapkan 100 Cocoa Doctor

20 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing...

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

16 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Teh Java Preanger membuka peluang memperluas pasar internasional, khusus ke benua Amerika. Permintaan teh tersebut...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Produksi TBS Lonsum Semester I 2025 Turun Dua Persen

Harga Referensi CPO Periode Juni Turun

30 Mei 2026
Kementan Targetkan Stop Impor Bawang Putih Lima Tahun Lagi

Kementan Targetkan Stop Impor Bawang Putih Lima Tahun Lagi

12 Februari 2026
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.