PERKEBUNAN INDONESIA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan hilirisasi besar-besaran sektor pertanian dan perkebunan dengan total dukungan anggaran hingga Rp371 triliun dalam tiga tahun ke depan.
“Hilirisasi itu bukan pilihan, tapi keharusan. Kita punya bahan baku terbesar dunia, tapi nilai tambahnya dinikmati negara lain. Ini yang harus kita ubah,” ujar Mentan Amran, dikutip Senin (16/2/2026).
Mentan mengungkapkan Indonesia menjadi nomor satu kelapa terbesar dunia. Dengan harga kelapa Rp1.350, jika dilakukan hilirisasi jadi coconut milk, coconut water, dan turunannya, nilainya bisa naik 100 kali lipat.
“Kita ini nomor satu kelapa terbesar dunia. Harga kelapa kita Rp1.350. Kalau kita hilirisasi jadi coconut milk, coconut water, dan turunannya, nilainya bisa naik 100 kali lipat,” ungkap Amran.
Amran menyebutkan, ekspor kelapa mencapai Rp24 triliun yang jika diolah bisa naik menjadi Rp2.400 triliun, bahkan Rp5.000 triliun.
Amran juga menyoroti gambir yang 80 persen bahan bakunya dikuasai Indonesia, namun pengolahannya masih dilakukan di luar negeri.
“Sedihnya gambir kita diekspor, diolah di luar, lalu dijual kembali ke dunia. Potensinya Rp5.000 triliun. Kita mau berubah atau tidak?” katan Amran.
Pada komoditas CPO, Indonesia menguasai 60–70 persen pasar dunia. Dengan strategi penguatan biofuel dan pengurangan impor solar, nilai tambahnya dinilai bisa melonjak signifikan.
“Kalau harga CPO rendah kita serap jadi biofuel dalam negeri, kalau tinggi kita ekspor. Kita bisa mainkan dunia,” ujar Amran.
Menurut Amran, jika hilirisasi nilai CPO yang sekarang Rp549 triliun, bisa jadi Rp1.500 triliun, bahkan Rp5.000 triliun.
Mentan Amran menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi dan transformasi ekonomi sangat bergantung pada keberanian generasi pengusaha muda.
Kementerian Pertanian juga membuka peluang konkret bagi pelaku usaha muda, mulai dari cetak sawah baru, pengembangan kakao hampir satu juta hektare dengan dukungan anggaran Rp10 triliun, hingga pembangunan pabrik kelapa senilai Rp1,5 triliun per unit melalui skema kolaborasi pembiayaan.
“Kalau tiga komoditas saja kita hilirisasi serius, kelapa, gambir, dan CPO, itu bisa 15.000 sampai 20.000 triliun. Itu setara tujuh tahun APBN. Ini bukan mimpi. Ini soal kita mau atau tidak,” pungkasnya. (sat)




