PERKEBUNAN INDONESIA – Potensi Pasar Produk Perkebunan seperti sawit, kopi, dan kakao bakal semakin meningkat seiring ditandatanganinya Persetujuan Perdagangan Bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (Indonesia–EAEU FTA) di St. Petersburg, Rusia.
“Menindaklanjuti arahan Presiden untuk membuka pasar baru bagi pelaku usaha Indonesia, hari ini saya menandatangani persetujuan dagang bersejarah dengan Uni Ekonomi Eurasia,” ujar Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso dalam keterangannya, Senin (22/12/2025).
Budi mengatakan, Indonesia-EAEU FTA tidak hanya tentang penurunan tarif, melainkan tentang membangun jembatan ekonomi yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.
Penandatanganan ini, tambah Budi, juga merupakan upaya diversifikasi pasar tujuan ekspor Indonesia, dan potensi sumber investasi baru khususnya terkait sektor manufaktur dan pertanian.
Indonesia-EAEU FTA mencakup pembukaan akses pasar barang, fasilitasi perdagangan, serta kerja sama ekonomi.
Uni Ekonomi Eurasia memberikan komitmen preferensi tarif kepada Indonesia sebesar 90,5 persen dari total pos tarif, atau mencakup 95,1 persen dari total nilai impor kawasan tersebut dari Indonesia.
Menurut Mendag, dengan preferensi tarif hingga 90,5 persen dari total pos tarif Uni Ekonomi Eurasia, produk unggulan Indonesia akan memperoleh akses pasar yang lebih luas dan kompetitif.
“Hal ini mendorong peningkatan ekspor sawit dan turunannya, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, produk perikanan, karet alam, furnitur, serta produk manufaktur seperti elektronik. Preferensi dan berbagai kemudahan tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk merebut pangsa pasar dari negara pesaing,” jelas Mendag.
Mendag Budi mengatakan, Indonesia–EAEU FTA menghadirkan berbagai peluang bisnis. Untuk itu para eksportir Indonesia didorong agar segera memanfaatkan berbagai fasilitas dalam perjanjian tersebut.
“Persetujuan ini akan memberikan kepastian kerangka hukum dan transparansi bagi dunia usaha, sehingga iklim perdagangan menjadi lebih dapat diprediksi dan kondusif.
Menurut Mendag, semakin terbuka lebarnya pasar Uni Ekonomi Eurasia juga akan menjadi daya tarik bagi pelaku usaha di kawasan tersebut.
Para importir di kawasan ini akan semakin mudah memasukkan produk-produk Indonesia ke pasar Uni Ekonomi Eurasia, bahkan berpotensi menyentuh pasar wilayah sekitarnya, seperti negara-negara di Asia Tengah.
Mendag juga menekankan, Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia sepakat memandang kerja sama ekonomi sebagai pilar penting dengan mendorong kolaborasi di berbagai bidang strategis. Bidang-bidang ini, antara lain pertanian, industri, energi, transportasi, logistik, ekonomi digital, serta pengembangan rantai nilai yang berkelanjutan.
Kepala Komisi Uni Ekonomi Eurasia Bakytzhan Sagintayev menyampaikan, pertemuan ini membahas sejumlah isu strategis terkait mencakup sektor perdagangan, logistik, serta berbagai bidang yang mendukung penguatan kerja sama ekonomi antara kedua pihak
“Kami berharap, setelah perjanjian ini mulai diimplementasikan, perdagangan antara negara-negara kami dapat meningkat hingga dua kali lipat,”ujar Sagintayev.
Total perdagangan Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia pada Januari – Oktober 2025 tercatat sebesar USD 4,4 miliar dengan ekspor Indonesia ke kawasan tersebut sebesar USD 1,76 miliar dan impor Indonesia dari kawasan tersebut sebesar USD 2,64 miliar.
Pada 2024, Uni Ekonomi Eurasia merupakan tujuan ekspor ke-24 dan sumber impor ke-17 bagi Indonesia dengan total perdagangan kedua pihak mencapai USD 4,52 miliar. Ekspor Indonesia ke kawasan tersebut sebesar USD 1,89 miliar dan impor Indonesia dari kawasan tersebut sebesar USD 2,63 miliar.
Produk ekspor utama Indonesia ke Uni Ekonomi Eurasia, antara lain, pertanian dan kehutanan seperti minyak sawit, minyak kelapa, kopi, dan produk kakao.
Sementara itu, produk utama impor Indonesia dari Uni Ekonomi Eurasia, antara lain, batu bara, pupuk kalium, gandum, dan besi baja.
Bagi Indonesia, persetujuan ini akan menciptakan peluang perluasan pasar nontradisional di kawasan Eurasia yang memiliki populasi 180 juta penduduk dan Produk Domestik Bruto (PDB) USD 2,56 triliun.
Sedangkan bagi Eurasia, Indonesia menawarkan peluang ekonomi dengan populasi 281,6 juta penduduk dengan PDB USD 1,4 triliun dan kelas menengah yang terus tumbuh secara eksponensial. (fad)




