Perkebunanindonesia.com – Permintaan pasar untuk gula semut di Indonesia mencapai 20 ton per bulan. Namun kapasitas produksi dalam negeri yang hanya berkisar 5-10 ton per bulan.
“Artinya permintaan pasar masih terbuka lebar untuk pasar dalam negeri,” ungkap Peneliti Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler (PR EPS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Istriningsih, dikutip Selasa (12/8/2025).
Demikian pula dengan pasar ekspor atau pasar global, Indonesia baru berkontribusi sebesar 3 persen. Dengan demikian pasar gula semut aren ini masih sangat potensial untuk dikembangkan.
Namun di sisi lain, kata Istriningsih, masih banyak persoalan seperti ketersediaan bahan baku yang semakin tahun semakin menurun.
Selain itu, tambah Istriningsih, proses produksi masih sangat sederhana, kualitasnya juga tidak seragam. Demikina juga, peralatan yang digunakan sederhana serta pemasarannya masih terbatas.
Istriningsih mempresentasikan model pengembangan agroindustri gula semut berbasis nira aren. Hal ini untuk meningkatkan nilai tambah dan ekonomi lokal di Jawa Tengah.
Menurut Istriningsih, industri gula semut basisnya adalah Nira Aren, fungsinya untuk meningkatkan nilai tambah bagi rumah tangga atau ekonomi lokal di Jawa Tengah.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kabul Ciptaku asal Banyumas menjadi salah satu BUMDes yang berhasil menembus pasar internasional untuk gula kelapa. Nilai ekspor gula kelapa kali ini mencapai USD 35.000 atau setara Rp586,4 juta, dengan volume sebanyak 18,5 ton.
Pelepasan ekspor produk BUMDes Kabul Ciptaku ini dilakukan Menteri Perdagangan Budi Susanto bersama Menteri Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, Mei 2025 lalu.
“Komoditas ini akan bernilai dan memberi nilai ekonomi asal memiliki pangsa pasar. Pemerintah akan bergerak secara sistematis agar produk desa dapat memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat desa,” ucap Mendes PDT Yandri.
Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyampaikan, pelepasan ekspor ini bukan hanya wujud kegiatan usaha, namun juga mencerminkan kolaborasi masyarakat desa, pemerintah, dan dunia usaha dalam membangun ekonomi desa yang kuat mandiri dan berorientasi global.
“BUMDes Kabul Ciptaku merupakan salah satu BUMdes yang bisa menjadi pusat ekonomi, karena mandiri dan berdaya saing tinggi. Ini juga menjadi bukti bahwa desa bisa ekspor, desa bisa maju dan menjadi pilar ekonomi bangsa,” ujar Sadewo. (fad)





https://shorturl.fm/nIYVv
https://shorturl.fm/EY3S0