Perkebunanindonesia.com – Dalam era disrupsi iklim dan ekonomi global, pengembangan komoditas perkebunan rakyat di lahan suboptimal menjadi peluang strategis.
Demikian diungkapkan Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Puji Lestari dalam webinar di Jakarta.
“Inovasi teknologi agronomi seperti ameliorasi tanah, varietas adaptif, sistem agroforestri, dan pengelolaan air berbasis konservasi telah terbukti meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani di berbagai wilayah,” terang Puji.
Menurut Puji, komoditas perkebunan rakyat seperti kakao, kopi, dan pinang memainkan peran penting dalam perekonomian perdesaan dan nasional.
Komoditas ini bukan hanya menjadi sumber pendapatan utama bagi jutaan petani kecil, tetapi juga menyediakan lapangan kerja, mendorong tumbuhnya industri hilir, serta berkontribusi terhadap devisa negara melalui ekspor.
“Pendekatan integratif antara inovasi teknologi, kebijakan publik, dan pemberdayaan kelembagaan petani, pengembangan kakao, kopi, dan pinang di lahan suboptimal tidak hanya menjadi solusi atas keterbatasan lahan produktif,” ujar Puji.
Namun, lanjut Puji, pendekatan tersebut juga menjadi motor penggerak ekonomi perdesaan yang resilien dan kontributor nyata terhadap ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan.
Di samping itu, berbagai program pemerintah seperti peremajaan tanaman perkebunan rakyat menjadi dukungan penting dalam penguatan kapasitas petani.
Demikian juga sertifikasi indikasi geografis, insentif usaha tani, serta penyediaan bibit unggul dan pelatihan teknis Selain itu peluang ekonomi dan pasar juga menjanjikan.
Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORPP BRIN Setiari Marwanto juga mengatakan, lahan sub optimal secara alami memiliki produktivitas rendah atau kondisi yang tidak ideal untuk pertanian.
“Faktor penyebabnya dibagi dua, yaitu pertama, internal seperti sifat fisik tanah, kimia. Kedua, eksternal antara lain iklim,” jelas Setiari.
Contoh lahan sub optimal antara lain, lahan kering masam, lahan kering iklim kering, lahan rawa pasang surut, lahan rawa lebak dan lahan gambut.
Setiari menyebutkan, luas lahan sub optimal Indonesia tercatat 149,5 juta hektare atau 78,2 persen dari seluruh luas daratan Indonesia.
Menurut Setiari, dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan produk pertanian pemanfaatan lahan sub optimal menjadi keadaan yang pasti untuk pemenuhan kebutuhan tersebut.
“Pemanfaatan ini membutuhkan inovasi teknologi dan pengelolan yang tepat untuk mengatasi kendala yang ada pada masing-masing jenis lahan,” ujar Setiari.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN Busyra B. Saidi menuturkan, salah satu teknologi pengembangan kopi di lahan suboptimal yaitu agroforestri kopi dengan pinang.
Hal itu, kata Busyra, manfaatnya meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi evaporasi, konservasi air, meningkatkan keanekaragaman hayati, menyerap karbon, dan diversifikasi produksi.
“Komoditas kakao, kopi, dan pinang telah terbukti sebagai tanaman unggulan rakyat yang mampu tumbuh baik di lahan suboptimal, serta memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar domestik maupun ekspor,” ujar Busyra. (har)




