Perkebunanindonesia.com – Keberadaan Nursery Batang menjadi salah satu kunci untuk memastikan ketersediaan benih kelapa bermutu.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Kementan, Abdul Roni Angkat, mengatakan, pemerintah terus memperkuat upaya strategis dalam mendukung kemandirian benih. Salah satunya keberadaan Nursery Batang.
Menurut Roni, Nursing Batang ini bukan hanya menghasilkan benih unggul, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kemurnian varietas dan pelestarian sumber daya genetik.
“Kami memiliki tiga kebun induk seluas enam hektare yang ditanami varietas Pandang Wangi, Genjah Entog Kebumen, dan Kelapa Dalam Bido. Dengan penanaman yang dimulai pada Desember 2023, kami optimis mampu memenuhi kebutuhan benih berkualitas secara berkelanjutan,” ujar Roni, dikutip Selasa (9/9/2025).
Diketahui, nursery yang berlokasi di Desa Beji, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang ini dibangun pada tahun 2021 dan mulai berproduksi pada 2022.
Hingga saat ini, Nursery Batang telah memproduksi 120.000 batang benih kelapa, dengan 71.122 batang telah tersertifikasi dan 58.903 batang di antaranya telah disalurkan kepada petani.
Sementara itu, Kementan juga melakukan penanaman pohon kelapa secara simbolis sebagai upaya penghijauan sekaligus pengembangan komoditas perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi di Nusakambangan, Cilacap.
Menurut Roni, program ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan jangka panjang dan memperkuat ketahanan pangan lokal.
“Melalui bantuan alsintan, penanaman kelapa, dan pembinaan ketahanan pangan, kami berharap warga binaan dapat lebih mandiri, produktif, dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional,” ujar Roni.
Roni mengatakan, pihaknya ingin memastikan bahwa sektor pertanian hadir dan memberikan manfaat nyata, tidak hanya di sentra produksi, tetapi juga di kawasan seperti Nusakambangan.
Lebih lanjut, Roni juga melakukan peninjauan BLK dan program kemandirian warga binaan. Program ini menjadi salah satu wujud nyata dukungan pemerintah dalam mempersiapkan keterampilan produktif bagi warga binaan di bidang pertanian, sehingga mereka dapat mandiri dan siap berkontribusi setelah kembali ke masyarakat.
Roni menambahkan bahwa pendampingan teknis dan monitoring akan terus dilakukan untuk menjamin keberlanjutan program. Program ini bukan hanya memberikan alat, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan di sektor pertanian. (sat)
Baca juga : Mentan: Keberhasilan Hilirisasi Perkebunan Dimulai dari Benih Unggul




