PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat sektor perbenihan bawang putih sebagai langkah strategis untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan menekan ketergantungan impor.
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau akrab disapa Titiek Soeharto mengatakan, komoditas bawang putih merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang hingga saat ini masih memiliki ketergantungan terhadap impor.
“Oleh karena itu, penguatan sektor hulu, khususnya perbenihan, menjadi kunci utama dalam membangun kemandirian produksi dalam negeri,” ujar Titiek dikutip Minggu (12/4/2026).
Titiek menegaskan, persoalan utama bawang putih bukan semata produksi, melainkan pada fondasi benih nasional yang belum optimal menopang kebutuhan nasional.
Menurut Titiek, kualitas benih menjadi faktor paling menentukan dalam keberhasilan pembangunan pertanian. Tanpa benih unggul yang kuat dan adaptif, berbagai program peningkatan produksi tidak akan memberikan hasil optimal di lapangan.
“Kualitas benih akan menentukan produktivitas, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta daya saing produk pertanian kita,” ungkap Titiek.
Titiek menekankan, percepatan swasembada bawang putih harus dimulai dari pembenahan menyeluruh, termasuk mengidentifikasi berbagai hambatan yang selama ini menghambat produksi dalam negeri.
Mulai dari keterbatasan produksi dan distribusi benih berkualitas, kelembagaan pembenihan yang belum optimal, akses pembiayaan dan sarana produksi bagi petani, dan integrasi hulu-hilir yang masih perlu diperkuat.
“Kami ingin membantu apa yang bisa kita bantu untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja dari BRMP Sayuran ini. Katanya kurang dana, insyaallah kita akan perjuangkan untuk tambahan dananya,” ungkap Titiek.
Di sisi teknis, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Kementerian Pertanian (Kementan), Fadjry Djufry, mengungkapkan bahwa diperlukan intervensi yang terstruktur dan berkelanjutan untuk mengurangi kesenjangan besar antara kebutuhan dan produksi nasional yang masih menjadi tantangan utama.
“Kita ingin mengembalikan kejayaan bawang putih nasional. Saat ini, ketergantungan kita terhadap impor masih sangat tinggi, mencapai 600 hingga 700 ribu ton per tahun, sementara produksi lokal kita baru di angka 50 ribu ton,” jelas Fadjri.
Fadjry menegaskan bahwa kemandirian benih merupakan fondasi utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Ketergantungan terhadap benih dari luar negeri dinilai sebagai risiko strategis yang dapat menghambat keberlanjutan produksi nasional dalam jangka panjang. (sat)




