a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
PT Pupuk Indonesia Kaji Peluang Ekspor

dok PT Pupuk Indonesia

PT Pupuk Indonesia Kaji Peluang Ekspor

20 April 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan kesiapan pasokan dan produksi untuk mendukung rencana pemerintah dalam memanfaatkan peluang ekspor pupuk urea ke pasar global. Langkah ini dilakukan dengan tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri sebagai prioritas utama.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi mengatakan, di tengah dinamika geopolitik global, perusahaan memiliki ketahanan pasokan yang kuat, khususnya untuk komoditas urea.

“Arahan dari Kementerian Pertanian melalui Pak Wakil Menteri Pertanian sangat jelas. Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri cukup,” ungka[ Rahmad dalam keterangannya, dikutip Senin (20/4/2026).

Rahmad menambahkan bahwa sebagai salah satu produsen urea terbesar di dunia, Pupuk Indonesia memiliki posisi strategis sebagai stabilisator pasokan urea global di tengah disrupsi rantai pasok pupuk.

Dinamika global tersebut justru membuka ruang bagi Indonesia untuk memainkan peran yang lebih besar melalui ekspor, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap perekonomian nasional dan ketahanan pangan regional.

“Di tengah gejolak global, banyak orang selalu berpikir kita pasti rentan. Tapi ternyata di sektor industri pupuk kita itu kita tidak rentan, justru malah bisa mengambil posisi sebagai salah satu penyelamat ekosistem pangan regional. Karena kita bisa membantu negara-negara yang membutuhkan pupuk,” ujar Rahmad.

Hal ini sejalan dengan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono yang menyebut empat negara telah menjalin komunikasi untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia di tengah gangguan distribusi global akibat situasi Selat Hormuz.

Empat negara tersebut adalah Australia, India, Filipina dan Brasil. Meski demikian, kebijakan ekspor tetap dilakukan secara hati-hati, dengan memastikan kebutuhan petani dalam negeri telah terpenuhi

“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” kata Wamentan.

Rahmad menyebut rencana ekspor ini tidak akan mengganggu kebutuhan pupuk dalam negeri dengan memperhitungkan masa tanam. Pupuk Indonesia hanya melaksanakan ekspor berdasarkan penugasan resmi pemerintah dan setelah memastikan ketersediaan pupuk bagi petani aman saat masa tanam.

“Nah, kita tidak mungkin akan mengekspor ketika musim tanam. Itu tadi jelas dan Dubes India sudah menyepakati bahwa kita mengekspor di luar musim tanam,” ucap Rahmad.

Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi urea mencapai 9,4 juta ton per tahun, lebih tinggi dari kebutuhan domestik yang berada pada kisaran 6–7 juta ton per tahun. Kapasitas ini didukung oleh ketersediaan bahan baku utama berupa gas alam yang dijamin pemerintah, baik dari sisi volume maupun harga.

Kapasitas produksi tersebut turut menopang ketersediaan stok pupuk yang hingga 14 April 2026 mencapai sekitar 1,2 juta ton baik subsidi maupun non-subsidi. Stok tersebut akan terus diperkuat dengan produksi harian yang berjalan dengan optimal.

“Saat ini (stok kami) 1,2 juta ton. Jadi 1,2 juta ton ditambah dengan produksi kita yang setiap hari itu untuk urea saja sekitar 25 ribu ton per hari. Ditambah untuk NPK kita itu kira-kira sekitar 15 ribu ton per hari. Jadi sangat cukup,” kata Rahmad.

Lebih jauh, Pupuk Indonesia juga memastikan di tengah fluktuasi harga pupuk global, pemerintah memastikan harga pupuk subsidi tetap stabil. Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi yang telah diturunkan sebesar 20% pada Oktober 2025 menjadi instrumen untuk melindungi petani dari gejolak harga internasional, sehingga keterjangkauan pupuk tetap terjaga.

“Seperti yang sudah ditegaskan oleh Pak Mentan dan Wamentan, HET pupuk subsidi untuk petani akan tetap sama. Artinya ketika harga dunia naik, harga pupuk subsidi di Indonesia justru turun,” ujar Rahmad. (fad)

Tags: NPKPT Pupuk Indonesia

Related Posts

Agrinas Palma dan IPB University Kembangkan Bioetanol

Agrinas Palma dan IPB University Kembangkan Bioetanol

7 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama IPB University kembangkan bioetanol berbahan baku singkong, sorgum, dan...

Wamentan Saleh Mustafa Siap Perkuat Kedaulatan Pangan dan Berantas Mafia Pangan

Wamentan Saleh Mustafa Siap Perkuat Kedaulatan Pangan dan Berantas Mafia Pangan

6 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa menegaskan komitmennya memperkuat kedaulatan pangan nasional dan berantas...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Durian Beku Indonesia Tembus Pasar Tiongkok

Durian Beku Indonesia Tembus Pasar Tiongkok

17 Januari 2026
Mdm. Izzana Salleh Sekjen CPOPC yang Baru

Mdm. Izzana Salleh Sekjen CPOPC yang Baru

29 Mei 2025
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.