PERKEBUNAN INDONESIA – Melalui program hilirisasi tebu pemerintah akan mendorong upaya swasembada gula melalui pengembangan tebu seluas 200.000 hektar (ha). Sejumlah di daerah petani sudah mendapatkan manfaat dari pengembangan program ini.
Budi Susilo, salah satu pengurus APTRI yang juga Ketua KUD Sumber Bahagia yang berlokasi di Lumajang, menyebutkan, program bongka ratoon ini memberikan asa bagi petani di tengah adanya tekanan harga giling.
Pasalnya, kata Budi, ini bisa mendorong petani melakukan bongkar ratoon dengan bantuan pembiayaan dari pemerimtah, sehingga dapat meningkatkan produksi dan menurunkan biaya yang ditanggung pemerintah.
Pada awalnya petani kurang percaya akan keberadaan program ini. Namun setelah bantuan mulai bergulir di bulan November, petani berbondong-bondong mengajukan diri untuk terlibat dalam program ini.
“Kaitan kegiatan ini petani dapat sebagai penerima manfaat berupa bantuan bongkar ratoon, dan juga dapat sebagai mitra penyedia benih,” ujar Budi.
Selain itu, lanjut Budi, ada juga petani yang lahannya dimitrakan untuk pembangunan kebun sumber benih. “Artinya banyak manfaat yang diterima petani dengan adanya program ini,” katanya.
Ketua Kelompok Tani Asih Muzatani Asih Samsinarsih mengungkapkan, anggotanya mendapatkan bantuan bongkar ratoon seluas 15 ha, tepatnya di Desa Kubangkarang Kec. Karangsembung Kab. Cirebon.
“Kami mendapatkan bantuan benih sebanyak 61.200 mata per hektare dengan varietas PSJT 941 dan HOK sebesar 4 juta. Melalui kegiatan ini produksi bisa naik jadi 1000 kuintal/ha, karena sudah lama tidak di bongkar,” jelas Asih.
Virta Ma’afia Diniati, anggota kelompok tani Talang Sejahtera asal Desa Bedayutalang, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumang mengaku, program ini sangat bermanfaat bagi petani.
Virta mendapatkan bantuan seluas 1 hektar dengan paket 60.000 mata tunas/ha dengan varietas bulu lawing dan HOK Rp. 4000.000/ha.
“Perkiraan tahun ini produksi saya bisa naik 1.500 kuintal per ha. Sebelumnya paling di angka 900 kuintal,” ujar Virta.
Virta berharap bongkar ratoon tetap diagendakan untuk tahun-tahun berikutnya dan ditambahkan subsidi pupuk ZA sebanyak 10 kwintal per hektar dan bantuan alsin untuk pengolahan lahan.
Hal senada disampaikan Joko Setiyo W.W, Ketua Kelompok tani, Dwi Bhakti 06, Kampung Purnama Tunggal Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.
Dwi mengaku, awalnya tidak percaya jika akan akan bantuan bongkar ratoon tebu tahun 2025 yang lalu. Lalu mendadak petani dirinya mendaftarkan diri dan akhirnya mendapatkan bantuan seluas 3 ha.
Dwi menerima benih Tebu sebanyak 60.000 mata/ha dengan Varietas GMP 07. Baginya program ratoon ini sangat bermanfaat karena meringankan beban biaya petani, mengingat ratoon tebu biayanya tinggi.
Abdul Halik, salah satu penyedia benih tebu, menyebutkan bahwa dengan adanya program ini berdampak pada produsen benih tebu. Pasalnya dalam 3 tahun terakhir tidak ada kegiatan penyediaan benih tebu bagi masyarakat.
Dengan adanya kegiatan BR dan perluasan ini sejumlah varietas unggul disebarkan kepada masyarakat seperti NX, Panjalu, PSJT yang memiliki keunggulan rendemen tinggi dan produktivitas diatas 1000 kuintal per ha.
Didi Tarmadi, pembina petani tebu asal Majalengka Jawa Barat menyebutkan, program bongkar ratoon dan peluasan berpotensi mengaktifkan PG yang tidak lagi berpoerasi di Jawa Barat karena akan terjadi oper supply.
Tentu, menurut Didi, ini perlu diantisipasi dengan mengembangan Pabrik gula mini untuk jangka pendek sebelum PG besar dapat diaktifkan.
Didi memperkirakan aka nada penambahan luasanb hingga 3000 ha, sehingga perlu dipikirkan penyerapannya. Dia juga menyarankan pentingnya evaluasi terhadai capaian rendemen yang dilakukan lembaga independen.
“Jangan sampai sudah dilakukan perbaikan varietas dan bahan tanam namun tidak ada perbaikan dari sisi rendemen,” kata Didi.
Menurut Didi, jika terjadi gap antara pabrik dengan hasil pengujian tim maka perlu dikaji apakah masalahnya bersumber dari efisiensi pabrik atau masalah ketidakterbukana dalam penjualan hasil tebu petani. (yuw)




