PERKEBUNAN INDONESIA – PTPN IV PalmCo melalui unit Regional III di Riau memperluas praktik perkebunan berkelanjutan hingga 44.000 hektare pada 2026 melalui pemanfaatan bahan organik serta penguatan sistem penyerbukan alami di kebun kelapa sawit.
Pelaksana Tugas Kepala Bagian Tanaman Regional III, Zafri Yasser, menyebutkan bahwa perluasan pemanfaatan Elaeidobius kamerunicus bertujuan menjaga konsistensi produktivitas melalui proses penyerbukan yang lebih efektif.
“Dengan penyerbukan yang baik, pembentukan buah menjadi lebih sempurna. Ini berdampak langsung pada produktivitas tandan,” kata Zafri dikutip Minggu (22/2/2026).
Program ini diperkuat dengan pembangunan fasilitas penangkaran menggunakan sistem hatch and carry serta penanaman beneficial plant untuk mendukung siklus hidup serangga penyerbuk.
PalmCO Regional III juga tahun 2026 juga mempercepat efisiensi sekaligus memperkuat praktik budidaya berkelanjutan. Optimalisasi produk samping pabrik kelapa sawit (PKS) serta peningkatan populasi serangga penyerbuk alami menjadi dua prioritas utama.
Berdasarkan data internal perusahaan, pada 2026 penguatan populasi dan agresivitas serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus direncanakan menjangkau 26.553 hektare. Sedangkan aplikasi pupuk organik ditargetkan mencakup 17.539 hektare.
Kedua program tersebut berjalan paralel guna menjaga keseimbangan produktivitas dan keberlanjutan lahan.
Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, menuturkan bahwa pemanfaatan tandan kosong (tankos), solid, dan abu janjang diarahkan untuk memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kesuburannya.
Langkah itu juga ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya fluktuatif.
“Seperti rencana perusahaan terkait optimalisasi bahan alami di seluruh perkebunannya di Indonesia, maka khusus di Regional III, total rencana aplikasi pupuk organik kami tahun ini mencapai 17.539 hektare,” jelas Bambang.
“Ini mencakup tankos seluas 5.338 hektare, solid 992 hektare, serta abu janjang dan produk samping lainnya yang didistribusikan secara proporsional di kebun inti,” kata Bambang dalam siaran persnya, Ahad (22/2/2026).
Bambang menjelaskan bahwa strategi tersebut bukan sekadar efisiensi biaya, tetapi juga bagian dari program pembangunan kualitas tanah (soil building) 2026.
Distribusi bahan organik diperkuat melalui sinergi kebun dan PKS, pemaksimalan armada angkutan internal, serta penerapan skema swakelola untuk mengatasi hambatan distribusi.
Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan induk usaha yang mendorong ekonomi sirkular dengan menjadikan limbah padat maupun cair sebagai sumber daya bernilai. Dari sisi agronomis, peningkatan kualitas penyerbukan alami juga menjadi perhatian serius.
Di sektor hilir, perusahaan juga mengoptimalkan limbah cair kelapa sawit (POME) menjadi energi melalui pembangkit listrik biogas di enam unit PKS.
Pemanfaatan gas metana dari POME tak hanya meningkatkan efisiensi energi operasional, tetapi juga membantu menekan emisi gas rumah kaca.
Selain fokus pada produksi, Regional III tetap menjaga kawasan hutan lindung di dalam areal kelola, melakukan restorasi sungai, serta melaksanakan reboisasi pada area konservasi.
Dengan target 17.539 hektare aplikasi pupuk organik dan 26.553 hektare penguatan penyerbukan alami, perusahaan berupaya membuktikan bahwa produktivitas dapat tumbuh selaras dengan prinsip keberlanjutan. (fad)




