PERKEBUNAN INDONESIA – Pabrik pengolahan teh saat ini kekurangan bahan baku akibat pasokan pucuk teh dari petani menurun. Kapasitas pengolahan pabrik pun di bawah target seharusnya. Sebuah peluang bagi petani untuk memasok,
Direktur Utama PT Sekarwangi Makmur Indonesia Sukiman Sumarto mengungkapkan, kekurangan pasokan bahan baku pucuk teh rakyat akibat tidak sedikit perkebunan teh rakyat dikonversi ke tanaman lain.
“Kemampuan petani untuk memelihara kebun semakin rendah, banyak kebun yang ditelantarkan dan diberakan,” ungkap Sukiman dalam sebuah Webinar Pertehan Indonesia 2026 dikutip Minggu (21/6/2026).
Selain itu, kata Sukiman, populasi tanaman teh rakyat juga semakin berkurang karena kurangnya pemeliharaan dan akibat kekeringan karena petani sulit mendapatkan pupuk bersubsidi.
“Tenaga kerja juga semakin sulit ditambah mutu pucuk teh rendah di bawah 10 persen dan permintaan teh rakyat rendah,” ujar Sukiman.
Sejak Covid 19, kata Sukiman, banyak pabrikan yang berhenti beroperasi yang berdampak pada kebun teh terlantar. Hasil hasil penjualan pucuk juga tidak cukup untuk memelihara tanaman teh.
Menurut Sukiman, kondisi ini menjadi peluang bagi petani teh untuk meningkatkan produski melalui Kegiatan Intensifikasi dan ekstensifikasi lahan.
Berdasarkan pengamatan, Sukiman mengungkapkan, di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terdapat 35 pabrik pengolahan teh dengan kapasitas terpasang 425 ton pucuk/hari
Namun rata-rata produksi hanya 195 ton/hari. Artinya pasokan pucuk ke pabik hanya 46 perse dari kapasitas pabrik.
“Sedangkan di Jawa Tengah pasokan di bawah 40 persen, akibatnya banyak pabrik teh yang tutup,” ungkap Sukiman lagi.
Sukiman mengatakan, permintaan teh dalam negeri cenderung menurun akibatnya harga jual teh kering di pasar domestic sangat rendah bahkan di bawah harga pokok produksi. Dalam kondisi demikian banyak pabrik yang memilih berhenti beroperasi.
Menurut Sukiman, manajemen perlu mengambil langkah strategik agar usaha teh dapat bertahan hidup. Strategi bertahan (Survival Strategy) merupakan strategi yang cocok dengan kondisi pasar yang sedang lesu (Bearish) saat ini.
“Perusahaan berupaya menekan biaya produksi agar Perusahaan tetap menguntungkan pada saat harga jual dan permintaan rendah,” ujar Sukiman.
Petani teh, Pedagang pengumpul pucuk, dan Pabrik pengolah teh rakyat perlu bekerjasama lebih erat lagi untuk menyikapi kondisi permintaan dan harga jual teh yang sangat rendah saat ini. (yer)




