PERKEBUNAN INDONESIA – Metode sambung pucuk (epicotyl grafting) dalam budidaya pala dapat meningkatkan kepastian produktivitas. Bahkan mempercepat waktu berbuah menjadi 1–2 tahun, dengan tingkat keberhasilan hingga 94,44 persen
“Metode (sambung pucuk-red) ini tidak hanya meningkatkan kepastian produktivitas, tetapi juga mempercepat waktu berbuah menjadi 1–2 tahun, dengan tingkat keberhasilan hingga 94,44 persen,” jelas peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Agus Ruhnayat dalam sebuah webinar belum lama ini.
Menurut Agus, teknologi sambung pucuk (epicotyl grafting) sebagai metode perbanyakan vegetatif yang memungkinkan penentuan jenis kelamin sejak awal.
Agus mengatakan, pada usia empat tahun, pala hasil sambung dapat menghasilkan hingga 52.500 butir per hektare. “Ini akan membuka peluang peningkatan pendapatan petani apabila dibudidayakan menggunakan standar teknis yang tepat,” ujarnya.
Rendahnya produktivitas pala nasional, menurut Agus, disebabkan masih dominannya penggunaan benih generatif yang jenis kelaminnya belum diketahui.
Identifikasi tanaman jantan dan betina baru dapat dilakukan ketika tanaman berusia 6–8 tahun, sehingga risiko penanaman dengan dominasi tanaman jantan mendorong sebagian petani enggan menerima benih bantuan pemerintah.
Selain itu, kata Agus, teknologi pendukung lain untuk mengatasi tantangan dalam peningkatkan produksi pala mencakup sistem penyungkupan massal.
Pemanfaatan microcontroller untuk pengaturan iklim mikro dan fertigasi otomatis, hingga prototipe mesin sambung otomatis berkapasitas 1.050 benih per jam juga pendukung lainnya.
Agus menegaskan, inovasi ini perlu didukung kebijakan penguatan kebun induk, penangkar benih bersertifikat, serta pelatihan berkelanjutan bagi petani agar hasil riset benar-benar dapat diimplementasikan.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Setiari Marwanto menyebutkan, kontribusi pala dalam berbagai sektor industri menjadikannya strategis untuk dikembangkan lebih lanjut.
Selain ekonominya, lanjut Setiari, pala juga nilai sejarah bagi Indonesia. Sejak abad ke-16, komoditas ini telah menjadi bagian penting dari perdagangan rempah dunia dan membentuk jejak historis dalam perjalanan ekonomi Nusantara.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari mengungkapkan, pala merupakan komoditas rempah strategis. Komoditas ini masuk dalam rencana pengembangan nasional bersama Bappenas untuk mendukung hilirisasi dan penguatan industri minyak atsiri.
Meskipun Indonesia masih menjadi produsen pala terbesar di dunia, Puji menyoroti fakta bahwa sebagian besar budidaya masih dilakukan oleh perkebunan rakyat dengan produktivitas yang belum mencapai potensi optimal nasional.
Menurut Puji, tantangan utama budidaya pala mencakup penyediaan benih unggul, identifikasi jenis kelamin tanaman sejak dini, penerapan teknologi presisi, dan pemenuhan standar sertifikasi benih. (far)




