PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Pertanian (Kementan) menggencarkan program pengembangan hortikultura di lahan kering sebagai langkah antisipatif menghadapi El Nino.
Upaya ini diwujudkan melalui implementasi program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, dengan fokus pada penguatan produksi, teknologi, dan kelembagaan petani.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim, terutama di wilayah dataran tinggi dan lahan kering yang rentan terhadap keterbatasan air.
Melalui HDDAP, Kementan melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mendorong pengembangan kawasan hortikultura terpadu berbasis komoditas unggulan sekaligus memperkuat sistem agribisnis dari hulu hingga hilir.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura, Kementan, sekaligus Project Director HDDAP, Freddy Lumban Gaol, mengatakan, program HDDAP di Kabupaten Enrekang akan dilaksanakan di 10 kecamatan dengan fokus pengembangan komoditas unggulan hortikultura, yakni bawang merah sebanyak 13 klaster dan kentang sebanyak 4 klaster.
Komoditas bawang merah sendiri menjadi penggerak utama ekonomi daerah, dengan nilai perputaran ekonomi diperkirakan mencapai Rp40 triliun per tahun.
Freddy menekankan bahwa keberhasilan pengembangan hortikultura di lahan kering sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, penyuluh, dan petani merupakan kekuatan utama dalam mendorong kemajuan sektor hortikultura. Seluruh pihak yang terlibat dalam HDDAP harus memiliki semangat yang sama untuk mentransformasi pertanian menuju sistem agribisnis modern,” kata Freddy dalam audiensi dan rapat koordinasi di Enrekang, Sulawesi Selatan, dikutip Jumt (24/4/2026).
Freddy menambahkan, program HDDAP diarahkan untuk mendorong petani naik kelas melalui penguatan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) sebagai pusat pengelolaan agribisnis terpadu, mulai dari budi daya, pascapanen, hingga pemasaran berbasis kualitas.
Dalam pelaksanaannya, HDDAP telah mencatat progres signifikan, antara lain verifikasi dan validasi CPCL bawang merah yang telah mencapai 95 persen dan kentang 100 persen.
Selain itu, penyusunan dokumen perencanaan kawasan (Horticulture Cluster Development Plan/HCDP) terus dipercepat untuk memastikan implementasi kegiatan berjalan tanpa jeda.
Berbagai tantangan khas lahan kering turut diantisipasi, seperti keterbatasan sumber air, ketergantungan pada musim hujan, serangan organisme pengganggu tanaman, hingga fluktuasi harga.
Intervensi yang disiapkan meliputi pengembangan irigasi berbasis pompa, pemetaan sumber air, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), serta penguatan rantai pasok dan kemitraan dengan offtaker. (sat)




